Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini. (QS Maryam : 26)
Sesungguhnya mendengar, berbicara dan perjanjian adalah hal yang pertama kali dilakukan oleh manusia manakala Allah SWT berfirman, ”Bukahkan Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, benar (Engkau Tuhan kami).”
Pikiran menerawang dan hati bercakap-cakap, pada umumnya adalah dua hal ini yang membuat segala bentuk peribadatan menjadi tidak khusyu. Pikiran terbang dengan sayap dunia, hati asyik berbincang dengan sahabat karibnya sang syaithan. Berbicara tidaklah harus bersuara. Percakapan hati, adalah juga termasuk jenis berbicara. Jadi di dalam diri ini, lidah lebih dari satu. Dan semua cakap-cakap lidah itu dihitung sebagai amal atau maksiat. Syaikh (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata, “Barang siapa melihat seorang wanita, kemudian timbul syahwat lalu hati dan pikirannya menerawang (zinah), maka zinah mata itu lebih buruk dari pada zinah badan.”
Seorang Syaikh pernah berkata bahwa, berbicara itu bagai minuman yang memabukkan. Ia dapat menjerat jiwa dan merusak pikiran. Orang-orang yang melakukannya akan sangat sulit untuk meninggalkannya. Seolah-olah berbicara itu menjadi minuman pelepas dahaga hati. Apalagi berada ditengah-tengah orang yang sedang membicarakan masalah dunia atau berada di tengah-tengah pasar. Dua-duanya sama, sedang menyebarkan bias kegelapan; ada bendera ria, ujub, takabur, suma, kebohongan, dan kesombongan. Tidak ada yang mengingat Tuhannya. Semuanya terbawa oleh keadaan, dan ingin segera menuruti nada jiwanya.
Mungkin ada seseorang yang mengerti ilmunya, namun tidak mampu menahan bicaranya. Hati meronta-ronta ingin ikut berbicara. Hatinya berkata, “Aku akan belokkan pembicaraan ini, agar mereka menjadi berbicara masalah agama.” Keinginannya memang mulia, akan tetapi tidak benar. Pada saat suara terlontar, sudah ditunggangi oleh hawa nafsu. Puas rasanya hati ini bila syahwat terlontar, dan belum tentu pembicaraan akan berubah arah. Bukannya kebaikan yang didapat malahan keburukan-keburukan.
Seseorang berkata kepada Sugih, “Lihatlah orang itu, bila berbicara tampak manis, padahal hatinya tidak, terlihat amat jelas.” Inilah jenis suara yang menggelitik hati. Membuat hati menjadi kaku dan ia tidak sadar bahwa sesungguhnya lawan bicaranya sangatlah jijik mendengar kata-kata yang seperti itu. Bagi orang-orang yang sedang belajar menghidari maksiat, tentu akan dipasangnya kewaspadaan atas gerak gerik hatinya. Jangan sampai ada sekilas meng-“iya”-kan perkataan yang buruk. Akan dicobanya untuk terus berdzikir dan istighfar. Begitu lengah, hati ini akan berkata, “Mengapa dia melihat tindak tanduk sahabat yang lain dan berburuk sangka, bukannya melihat ke dalam dirinya sendiri.” Mulailah tongkat estafet berganti, yang semula sahabatnya menilai orang lain, sekarang Sugih menilai sahabatnya. Kemudian barulah terasa bahwa, perbuatan ini juga tidak benar.
Inilah kejahatan dari sebuah suara yang mempunyai daya magis yang tinggi. Bila tidak waspada, kejahatan yang seperti itu akan terus berlanjut dan menggelinding bak bola salju. Jadi benar orang bijak berkata, “Gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak.” Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Bila ada orang yang berkata seperti itu, sesungguhnya ia telah berbohong, karena tidak ada yang mengetahui isi hati seseorang, terkecuali para kekasih Allah SWT. Untuk itu maafkanlah ia, doakan agar keangkuhannya diampuni oleh Allah SWT.” Inilah ilmu yang sederhana namun sangat mujarab. Kemaksiatan seketika tidak berkepanjangan, langsung memberikan manfaat bagi yang mendoakan dan juga bagi yang didoakan.
Syaikh (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata, “Membicarakan kesalahan orang lain walaupun itu benar, ini merupakan kejahatan yang tinggi.” Beliau juga berkata lagi, “Berbicara walaupun yang diucapkan merupakan hal yang benar, bilamana ditunggangi oleh hawa nafsu, merupakan maksiat juga.” Jadi kuncinya adalah diam dan segera meninggalkan lingkungan yang seperti itu.
Kejahatan itu banyak yang tersembunyi dan sangat halus, seperti kejadian di atas. Marilah kita lihat seseorang yang berbicara kepada orang lain atas perilaku orang lain, yang belum tentu betul seperti itu. Pertama adalah orang yang merasa dirinya berilmu, agar lawan bicaranya mengira bahwa ia mampu membaca hati seseorang. Kemudian yang kedua, panah kebencian telah meluncur kepada orang yang tidak bersalah tadi, jadi harus meminta maaf. Ketiga adalah berburuk sangka, yang biasnya merusak alam semesta ini. Ke empat, membuat lawan bicara tergerak hatinya. Dan kelima bila tidak berhati-hati, suara yang buruk tadi menggelinding kepada orang lain. Lantas keenam dilupakannya Allah Taalaa. Inilah sabda Rasulullah SAW, “Apakah engkau tega memakan bangkai saudaramu?” Naudzubillah mindzalik semoga Allah Taalaa menjauhkan kita dari perbuatan-perbuatan yang tidak berguna.
Tuan Syaikh Abul Karim al Bantani berkata, “Barang siapa mampu menahan berbicara, maka Allah Taalaa akan menurunkan hikmah.”
Diam, merupakan santapan ruhani yang utama. Seperti berkhalwat, diperintahkannya untuk tidak berbicara kecuali hanya menyebut nama Allah saja. Hasilnya berupa hikmah, yang datang seketika. Ada hikayat, tatkala Lukmanul Hakim masuk ketempat Nabi Daud AS, dilihatnya sesuatu benda yang belum pernah dilihat sebelumnya. Ia amat heran dengan apa yang dilihatnya. Ia bermaksud bertanya, namun kebijaksanaannya melarang. Maka ia menahan dirinya untuk berbicara. Setelah beberapa hari, Nabi Daud AS berkata, “Baju besi ini telah selesai dan bagus untuk berperang.” Dan Lukman berkata, “Diam itu suatu hukum dan sedikitlah yang mampu.” Dengan diamnya, pengetahuan itu berdatangan tanpa harus bertanya, seperti yang dialami oleh Lukmanul Hakim.
Banyak salik mengalami hal yang sama. Sebelum pengajian dimulai, biasanya telah dipersiapkan setumpuk pertanyaan. Akan tetapi bilamana sudah berhadapan dengan Syaikh, tiada keberanian untuk bertanya. Bahkan semua pertanyaan jadi lupa, perasaaan jadi ringan, dan semuanya diam. Manakala beliau mulai berbicara menyampaikan wejangan, dijawabnya semua pertanyaan yang belum terlontar dari murid-muridnya, bahkan tidak jarang bilamana muridnya melakukan maksiat, disinggunya masalah-masalah itu.
Suatu saat seorang sahabat pernah berkata kepada Sugih, “Katanya bila ada sesuatu yang akan ditanyakan, kemudian kita diam, maka Syaikh akan memberikan wejangan yang berkenaan dengan hal tersebut?” Benar saja, ternyata Syaikh menyampaikannya dengan gamblang dan sangat mudah dimengerti. Kontan saja sahabat itu bertobat atas tindakkannya.
Tingkat diam pun ternyata bermacam-macam. Mari kita tengok ke dalam dada kita masing-masing. Pernah suatu ketika Syaikh sedang menjelaskan masalah syukur di depan dua orang sahabat. Di tengah pembicaraan itu sahabat yang satu menangis dan yang satu lagi mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Terlihatlah diamnya yang menangis berbeda dengan diamnya yang takjub.
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah bercerita, “Ada seorang ulama di Banten, bila ia sedang membaca Al Quran, membuat hanyut yang mendengarnya, hati sekeras apa pun akan menjadi luluh, ibu-ibu yang sedang menggoreng menjadi gosong. Sampai sekarang murid-murid ulama itu menjadi Guru-guru mengaji yang terkemuka.”
Kemudian beliau bercerita yang lain, “Suatu hari Kanjeng Dalem Cikundul, Syaikh Raden Aria Wiratanudatar bin Ariawangsa Gofarana Cikundul merasa kepanasan di siang hari. Dipanggilnya sekelompok pemain musik tradisional, agar memainkan musik dan mendendangkan lagu Cianjuran yang sesuai dengan petunjuknya. Ketika musik dimainkan, mulailah awan menjadi gelap, binatang-binatang di sawah berbunyi, udara sejuk bertiup, seakan-akan hari berubah menjadi malam. Kemudian Kanjeng Dalem itu tertidur.
Begitu misterius suara itu, mempunyai daya magis yang kuat, yang dapat mempengaruhi alam semesta dan jiwa seseorang. Bisa membuat menangis, tertawa, marah, kesal, mengumpat, dan masih banyak lagi. Jika berbicara dan membuat yang mendengarnya menjadi kesal dan marah, mungkin nilai kemaksiatannya akan digandakan. Pertama karena berbicara sesuatu yang tidak baik dan dapat mengotori alam semesta ini, lalu yang kedua, sebagai penyebab orang lain jadi bermaksiat. Belum lagi akibat yang ditimbulkan oleh kemarahan tadi.
Bila kitab yang mencatat seluruh pembicaraan seseorang dari kecil hingga setua ini diperlihatkan, maka akan tampak dengan jelas catatan-catatan yang berwarna merah akan lebih banyak. Umumnya jenis kesalahan-kesalahan itu adalah bicara bohong, mengumpat, bicara pamer (ria), bermukadua atau mengadu domba, buruk sangka, bicara keji, perkataan bathil, menambah pembicaraan, mengurangi pembicaraan, bicara yang menyakiti orang lain, atau merusak kehormatan orang lain. Seolah-olah ringan saja perkataan yang tidak berguna meluncur dari mulut yang kotor ini, padahal bahayanya teramat besar. Rasulullah SAW besabda, “Barang siapa menjaga dari kejahatan perut, kemaluan dan lidah, niscaya ia akan terjaga dari kejahatan seluruhnya.”
Beliau bersabda lagi, “Barang siapa diam, ia akan terlepas dari mara bahaya.”
Syayyidina Abu Bakar Ashshidiq RA menunjuk ke lidahnya dan berkata, “Inilah yang mendatangkan kebinasaan kepadaku.”
Umar bin Abdul Aziz RA berkata, “Sesungguhnya aku mencegah dari banyak berkata, karena takut membanggakan diri.”
Syaikhuna berkata bahwa, enerji menahan berbicara seperti mewiridkan Malakandias, akan menembus ke dalam alam-alam yang lain. Berpuasa selama tujuh hari yang berakhir pada malam Jumat, empat hari pertama puasa biasa, dan tidak bicara kepada makhluk, kemudian tiga hari selanjutnya puasa tidak berbuka dan makan sahur, tidak berbicara dan tidak tidur di malam hari, jadi jumlah tidak bicaranya selama tujuh hari. Pada setiap harinya diharuskan membaca wiridan tertentu ditambah ayat-ayat suci Al Quran dalam bilangan tertentu dan cara-cara tertentu pula. Maka akan dialami hal-hal yang tak akan mampu dijelaskan dengan nalar atau akal. Untuk itu wajar bilamana orang-orang yang ahli dan tekun melakukan pelbagai wiridan yang khusus untuk tidak berbicara disebut ahli hikmah.
Jangankan menahan amarah, menahan berbicara pun tidak mampu. Hal ini hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang yang berada dalam keadaan spiritual yang tinggi. Ini adalah ilmu tahapan dan bukannya ilmu anjuran. Silakan saja dirasa. Sejak kecil kita dianjurkan untuk tidak banyak berbicara. Namun anjuran-anjuran itu tidak ada yang berhasil mempengaruhi jiwa, tetap saja bicara dihambur-hamburkan. Malahan semakin lihai mengolah kata-kata, terasa semakin nikmat. Berbicara itu merupakan tindakan tentara hati, yaitu lidah dan mulut. Kembali seperti pembicaraan yang lalu, bilamana hatinya baik, maka akan baik pula seluruh anggota badannya. Dan untuk membuat hati menjadi baik, sama sekali tidak bisa dengan anjuran, “berbaik hatilah!” atau “lembut hatilah!” Semua anjuran itu tidak akan ada yang mampu mempengaruhi. Semua lagi-lagi akan bertumpu kepada riyadhah dan mujahadah, yang tentunya atas bimbingan seorang mursyid.
Semoga Allah taaaa memberikan kegagahan kepada kita dalam menjalankan riyadhah dan mujahadah, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin.
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaithan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (QS Al Araaf: 201)
Hati bisa seumpama singa
Tega makan bangkai saudaranya
Karena itu memang makanannya
Mengendap-endap mencari mangsa
Merasa bagai raja rimba
Yang ada berburu harta
Untuk membayar cinta kepada keluarga
Bicaranya mari berjuang mendaki di jalan yang penuh duri
Mana mungkin bisa terdaki! Bila hati masih ada dengki!
Hati bisa bagai kambing
Takut kepada pembimbing
Tapi bila rumput di rumah kering
Ia pergi memasang jaring
Bagai domba yang bertaring
Tak memperdulikan sahabatnya yang gering
Duhai yang Maha Sempurna,
Segala puji bagi-Mu, yang di hadapan keagungan-Mu segala sesuatu hina
Tiada daya dan upaya tanpa pertolongan-Mu,
Sucikan hati kami
Agar selalu mengingat mati dan
Tergerak untuk memberi agar hidup tidaklah sepi
Duhai yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Biarkan jiwaku melayang, bila telah terpenuhi kasih dan sayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar