Sabtu, 07 November 2009

JALAN

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS Al Ankabuut: 69)

Seseorang menghadap Syaikhuna dan menceritakan pengalamannya mengaji. Sudah beberapa Guru dan majelis ilmu telah didatanginya, akan tetapi belum terasa adanya perubahan. Terlebih lagi hal-hal yang menyangkut masalah gerak hatinya. Kemudian orang itu berkata, “Syaikh bolehkah saya ikut mengaji di sini, hari ini saya merasakan sesuatu yang lain, bolehkan saya meminta wiridan?” Syaikhuna menjawab, “Saya ini sedang berjalan, di dalam perjalanan ini banyak sekali rintangan-rintangan, banyak sekali duri-duri, jarang sekali ada yang mampu bertahan, terkadang kepanasan, terkadang juga kehujanan, banyak menerima cacian dan makian, banyak mengurut dada, banyak menahan lapar, dan banyak menangis, berpikirlah lagi dan pulanglah, bila di kemudian hari kemauanmu sudah bulat, datanglah lagi kemari.”

Allah SWT berfirman, “Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.” (QS Al Kahfi: 61)

Dua laut bertemu
Yang satu lautan Nabiyullah Musa AS dan
yang satunya lagi lautan Nabiyullah Khidir AS
Mana pernah bisa berkumpul lautan itelektualitas dengan lautan spiritualitas?

Hasrat yang menggebu-gebu biasanya cepat padam. Berulang kali Sugih menyaksikan orang yang datang kepada Syaikh dan langsung berjanji akan ikut mengaji, namun di saat pengajian tiba orang tersebut tidak muncul. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Itulah warna jiwa, mudah hanyut oleh keadaan sesaat.” Jalan yang satu ini tidak mudah. Sudah lebih dari puluhan orang diajaknya, namun tersisa hanya beberapa orang saja. Itu pun yang cukup tangguh. Berulang-ulang keluarganya diajak mengaji, akan tetapi tak satu pun yang bertahan. Banyak nian suara yang negatif. “Kok menghadiahkan Al Fatihah kepada Gurunya, kok mengkultuskan Gurunya, kok dzikirnya menggoyang-goyangkan kepala, itu kan mengajinya orang tua.” Teramat banyak kok dan alasan lainnya, seolah-olah mereka tahu jalan yang benar, ahli di bidang agama dan seakan-akan mereka pernah mencapai suatu “keadaan,” sehingga mengerti mana yang benar dan mana yang salah, padahal kesehariannya bercinta dengan dunia. Semoga saja Allah Taalaa mengampuni segala ketidaktahuaannya dan membukakan pintu hidayah yang sebesar-besarnya.



Sugih bersahabat juga dengan hampir semua karyawan di kantornya. Usahanya di bidang komoditi dan Crude Palm Oil (CPO). Bahan bakunya dari Summatera Utara, Sulawesi Utara atau wilayah Timur Indonesia dan kemudian di ekspor ke beberapa negara. Transaksinya cukup besar. Terkadang mendapatkan margin yang tinggi, terkadang kecil atau tak urung sekali-kali rugi. Bermacam-macam tingkah laku pegawai di sana, kebanyakan membicarakan masalah dunia, ngerumpi dan tertawa terbahak-bahak. Di waktu lengang jarang ada yang wirid di masjid, kecuali satu dua orang saja. Masjid itu letaknya tidak jauh dari kantor, hanya lima menit berjalan kaki.

Suatu hari bencana datang. Seorang direksi telah membayar terlebih dahulu pembelian CPO sebanyak dua belas ribu metric ton. Walaupun direksi yang lain telah mencoba mencegah, diterjangnya terus. Apa yang terjadi kemudian, setelah kapal datang ternyata CPO tersebut tidak ada. Atas kejadian itu, likuiditas yang semula memang sudah berat, menjadi tambah parah. Mulailah cost control diperketat. Penciutan karyawan pun tak dapat dihindari. Dan hal ini diawali dengan karyawan yang ada hubungan keluarga atau saudara. Tentu saja ada yang konsekuen patuh, ada yang tidak. Akan tetapi keputusan adalah keputusan dan harus tetap dijalankan sekalipun terjadi sedikit benturan. Belum sempat melakukan konsolidasi, badai yang ke dua datang. Satu unit usaha yang diandalkan untuk mendatangkan keuntungan dan diperuntukkan untuk membayar utang-utang perusahaan, diserobot oleh seorang penguasa yang mengaku beragama Islam akan tetapi berdarah dingin, lebih dingin dari pada es yang membeku. Akhirnya kapal tak mampu bertahan dan karam, berhamburan karyawannya menyelamatkan diri.
Berharap akan ada kapal lain yang menolong, justru badai ketiga yang datang. Perusahaan tidak lagi mampu membayar sewa kantor, seluruh assets-nya disita dan berhamburanlah para pekerja yang telah bertahun-bertahun mencari nafkah di situ dengan membawa bermacam-macam rasa dan tuntutan. Ada yang pindah bekerja, ada yang menuntut pesangon, ada yang diam-diam pergi. Ada pula yang mengancam dan menuntut saham. Jurus-jurus kuno yang paling ampuh pun dipergunakan, pergi menghindar, lari dari tanggungjawab. Dan tinggallah beberapa orang saja yang mau bertahan. Mereka yang semula kawan menjadi lawan, tadinya bersahabat menjadi saling mendebat. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata, “Barang siapa lari dari peperangan, dia akan dihukum melebihi orang yang munafik, nah renungkanlah itu!”

Hikmah apa yang bisa diambil dari kejadian di atas? Manusia tak berdaya! Semua tunduk terhadap ketentuan-Nya. Perusahaan yang tadinya bertransaksi ratusan milyar, hanya sekali tepuk musnahlah ia. Sebuah istana yang porak poranda dan yang tertinggal hanyalah dosa-dosa berupa kebohongan, tipu muslihat, kesombongan dan keangkuhan yang ditinggalkan oleh pemilik, pengurus dan karyawan. Apa daya buku catatan telah tertulis. Malaikat penjaga tak kenal kompromi, terlalu banyak catatan di dalam buku sebelah kiri. Dan hanya perbuatan baiklah yang mampu menghapusnya. Rasulullah SAW bersabda, “Berbuatlah kebaikan karena kebaikan-kebaikan itu akan menghapus keburukan-keburukan.”

Obatnya memang harus berbuat baik. Dan berbuat baik yang benar, tidak bisa tidak harus dengan ilmu. Jika tidak akan sia-sia kebaikan itu. Ingin menjadi orang yang berilmu tidaklah mudah, seperti menghadapi ulangan. Bila tidak mampu menjawab, jalan pintas yang termudah adalah menyontek. Tentu saja hal yang satu ini tidak sah hukumnya. Akan tetapi di dalam beragama “diperbolehkan.” Dari pada susah mencari-cari ilmu di dalam kitab, mendengarkan khotbah, atau mencari-cari seseorang yang berpangkat ulama, yang tidak mudah ditemukan, lebih bijaksana bila mengikuti seseorang yang lebih dahulu berjalan sebagai “pejalan.” Kemudian dirasakan sendiri, apakah benar ilmu yang didapat itu dapat menenangkan hati dan dapat menghapus keburukan yang tadi. Tidak akan ada seseorang manusia pun yang mampu menjawab, terkecuali bagi yang pernah merasakannya sendiri. Rasulullah SAW bersabda, “Maukah kuceritakan kepadamu tentang amalmu terbaik dan paling bersih dalam pandangan Allah SWT serta orang yang tertinggi derajatnya di antaramu, yang lebih baik dari menyedekahkan emas dan perak serta memerangi musuh-musuhmu dan memotong leher mereka, dan mereka juga memotong lehermu?” Para sahabat bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dzikir kepada Allah SWT.”



Inilah perjalanan kehidupan. Terlalu banyak air mata daripada gelak tawa. Kejadian ini membawa beberapa sahabat jadi turut mengaji. Akan tetapi ironisnya, beberapa sahabat yang sudah lebih dulu mengaji justru meninggalkannya. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Inilah anugerah yang besar dari Allah Taalaa.” Orang-orang menjadi berpayung dalam penderitaan, kekurangan harta dan ketakutan. Kesombongan pun sirna, jadilah was-was meraja lela, makan tidak bernafsu dan tidur pun susah. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Kesulitan itu merupakan hari raya bagi para pejalan, hati lebih keras menjerit kepada Allah Taalaa, air mata bercucuran sebagai tanda tiada kemampuan dan kebodohan.” Bagi sang “pejalan,” ini merupakan anugerah yang tiada tara, ia akan berada di puncak kenikmatan, karena dengan keyakinannya bahwa Allah bersama dengan orang-orang yang hatinya porak poranda karena-Nya. Bersabar dan berserah terdadap ketetuan-Nya akan lebih mulia, dibanding harus meronta-ronta menyalahkan satu sama lainnya.

Hidayah sungguh tiada ternilai harganya. Diberikan oleh-Nya kepada siapa saja, tanpa pandang bulu. Bisa hadir kepada si kaya dan juga si miskin. Terkadang datang kepada anak muda dan tak kurang kepada orang tua. Kita tidak tahu, karena Dia bekerja sangat misterius, sekehendak-Nya saja. Dia berdiri sendiri tiada sekutu bag-iNya, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia yang membolak balikkan hati manusia. Dibuatnya bagai kapas yang jatuh dari langit, terombang ambing tertiup angin, tiada yang tahu akan jatuh kemana kapas itu. Rasulullah bersabda, “Penghuni Surga dan neraka telah ditentukan, tiada bertambah ataupun berkurang.”



Pada hari Sabtu, dua orang sahabat turut berziarah ke tempat Syaikhuna. Berkumpul dengan ibu-ibu yang lain untuk mengikuti pengajian. Sahabat yang satu adalah matan pemilik perusahaan yang karam tadi. Ia hanya bermaksud ingin melihat-lihat saja. Sementara sahabat yang lain adalah seorang wanita, mantan karyawati dan beragama Nasrani. Ia bermaksud hijrah dari agamanya dan memeluk agama Islam, agama yang sempurna. Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Hari ini adalah hari yang teramat istimewa. Disaksikan oleh saudara-saudara kita yang tak terlihat, Malaikat berkumpul mengepakkan sayapnya, sambung menyambung sampai ke Arsy. Mereka semua menyaksikan, seorang anak manusia yang akan tersucikan karena hijrahnya ke dalam agama Islam. Terhapus segala dosa-dosanya, bagai bayi yang baru dilahirkan oleh sang ibu. Semua ini adalah kehendak Allah Taalaa. Kemudian Syaikhuna berkata yang diikuti oleh sahabat wanita itu:

Syaikh, “Asyhadu allaa illaaha illa Allah”
Sahabat, ”Asyhadu allaa illaaha illa Allah”
Syaikh, ”Wa asyhadu anna Muhammadur Rasulullah”
Sahabat, ”Wa asyhadu anna Muhammadur Rasulullah”

Suasana sangat haru. Tiada yang mampu menahan tangis. Hati sekeras apa pun akan tersapu oleh keharuan saat itu. Lalu Syaikhuna menutupnya dengan doa yang diaminkan oleh jamaah pengajian. Dan Syaikhuna berpesan, ”Bimbinglah saudara kita yang baru ini, cintailah dia sebagaimana engkau mencintai saudaramu yang lain, bantulah di kala dia susah dan kawanilah di kala dia senang.”

Allah SWT berfirman, “… Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki…” (QS An Nuur: 35)

Sepulangnya menyaksikan seorang sahabat yang hijrah, dibakarnya arang dan bukhur sebagai tanda syukur, lalu ia persembahkan wewangian itu untuk Allah Taalaa. Malam hari adalah waktu yang sangat ditunggu-tunggu. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada pekerjaan rutin berupa dzikir-dzikir, ada pula wiridan khusus, inilah pekerjaan yang khusus bagi “pejalan.” Orang-orang yang berjalan di atas dunia ini mengikuti gerak gerik Gurunya, Syaikhnya, para ahli silsilah yang sambung menyambung sampai kepada Rasulullah SAW. Berjalan menuju Cahaya bersama Cahaya dan atas kehendak Cahaya itu dendiri.

Banyak manusia berjalan tanpa arah. Pemandunya tidak lain adalah syahwatnya. Berjalan kesana kemari, mendaki gunung dan menyelam samudera, pergi ke Timur lalu ke Barat, merasa selalu benar dengan segala tindakkannya. Manusia seperti itu, tidak akan pernah merasa tersesat, karena mereka tidak pernah punya arah dan tujuan!

Kalaupun ada, maka yang dituju sesungguhnya itu hanya bayang-bayang. Segala sesuatu dikaitkan dengan kebutuhan inderawi. Ingin memuaskan mata, ia pergi melihat-lihat; ingin memuaskan telinga ia pergi mendengar; ingin memuaskan mulut ia berbincang; ingin memuaskan hidung ia mengendus-endus; ingin memuaskan perut ia makan dan minum; ingin memuaskan birahi ia kawin, ingin memuaskan hati ia mencari pujian. Akan sampai dimanakah kehidupan seperti ini? Manakah yang lebih mulia; seekor kera atau manusia, yang melulu hanya memuaskan jiwa rendahnya?

Sesungguhnya ia tidak sadar, betapa sulitnya perjalanan ini. Tak bedanya berada di kegelapan malam, tidak tahu arah dan bahkan yang dicarinya pun tidak tahu. Mari kita lihat kisah ini. Seseorang bertanya kepada pemuda yang memakai jubah bertambal membawa ember dan botol tinta. Di dalam hatinya berkata, jika melihat mukanya tampaknya ia ahli keruhanian, dan bila melihat botol tintanya tentulah ia seorang pelajar. Seseorang tadi bertanya, “Wahai pemuda, apakah jalan menuju Tuhan itu?” Sang pemuda menjawab, “Ada dua jalan menuju Tuhan, jalan orang awam dan jalan orang yang terpilih. Engkau tak mempunyai pengetahuan tentang jalan yang kedua, dan jalan orang awam yang kau tempuh itu, ialah memandang perilaku-perilakumu sebagai sebab sampainya kepada Tuhan, dan mengira bahwa botol tinta adalah salah satu benda yang merintangi pencapaian.” Sang pemuda itu lantas berlalu.

Allah SWT, berfirman, “Wamaa khaaqtul jinna wal insa illaa liya’budun, Aku ciptakan jin dan manusia tidak lain hanya untuk menyembahKu,” kemudian di dalam hadist Qudsi Allah berfirman, “Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi dan Aku ingin diketahui…”

Perintah-Nya teramat jelas, sembah dan carilah Aku!
Tanpa seorang pembimbing, engkau tidak akan pernah mampu berjalan!
Karena Dia, tidak akan dapat dijangkau dengan penglihatan mata

Sedangkan tanpa mata, orang awam itu buta
Bagi orang terpilih, justru itu kendaraannya!

Pernahkah mendengar, rombongan ikan di laut bertanya kepada sang pemimpin, “Hai pemimpin ajaklah kami melihat lautan!” Apa yang akan dijawab oleh sang pemimpin? Itulah perumpamaan yang pas diperuntukkan untuk manusia zaman kini. Tak jauh bedanya dengan ikan-ikan yang berada di lautan dan selalu bertanya agar dibawanya melihat laut, padahal mereka sedang berada di lautan.

Hai jiwa! Jangan pernah berhenti dan merasa aman!
Karena Syaikh berkata, ”Akupun tidak tahu, bagaimana nasibku di hari berbangkit nanti.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar