Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Syaikh Abdul Karim Tanara berkata, “Barang siapa keluar rumah berniat mencari ilmu, maka Malaikat akan bershalawat untuknya dan begitu juga ikan-ikan di lautan.”
Banyak orang masih yang percaya, apabila ada kupu-kupu terbang di dalam rumah, akan kedatangan tamu. Hatinya mulai menerawang siapakah tamu itu, membawa rezekikah atau sebaliknya?
Saya pernah mendengar Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Bila seseorang sedang berniat, misalnya ingin menziarahi orang tuanya, atau saudara-saudaranya, maka akan memancarlah suatu enerji. Enerji yang halus, yang hanya mampu ditangkap oleh makhluk yang halus budi pekertinya. Makhluk yang tidak menyakiti makhluk yang lain, makhluk yang cantik bentuk lahiriyah maupun batiniyahnya. Itulah kupu-kupu. Semakin sedikit gerakannya, semakin indah warna warni sayapnya. Ia memang diciptakan seperti itu, ditakdirkan menjadi binatang yang indah dan lembut, dan diberikan kelebihan mampu menangkap enerji “niat” tadi. Begitu pula orang-orang yang berbudi pekerti baik, yang terus menerus berperang melawan hawa nafsunya. Maka tidak ada hal yang aneh baginya, ia juga mampu berlaku bagai kupu-kupu tadi, mampu membaca enerji-enerji yang berterbangan di alam semesta ini.”
Suatu hari terlihat oleh Syaikh bahwa ikan peliharaannya membentur-benturkan badannya ke dinding. Dulang-ulanginya tindakan ini. Kemudian Syaikh berkata, “Perhatikan perilaku ikan ini, ia sedang membaca enerji, isyarat-isyarat kejadian yang akan datang, bersiap-siaplah untuk menyambut datangnya suatu bencana yang datangnya dari alam.” Dan benar saja! Satu Minggu kemudian terjadilah gempa bumi yang cukup dahsyat di daerah Pandeglang dan sekitarnya. Memporakporandakan rumah dan pepohonan di sana.
Itulah kekuatan enerji niat. Terlalu banyak hal-hal yang tidak mampu dijelaskan oleh akal. Dan tanpa disadari diantara kita pernah juga mengalami kejadian-kejadian ini. Misalnya pada waktu Bulan puasa, kemudian berniat untuk menjalankan ibadah puasa, padahal ada penyakit mag atau gangguan lambung lainnya. Dengan niat yang kuat, ternyata tidak mengalami sakit apa-apa dan malahan merasa lebih nyaman. Berbeda bila tidak ada niat untuk berpuasa, maka asam akan bertumpuk di lambung dan perut terasa perih jika sampai dengan tengah hari belum terisi makanan. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Innamal a’malu biniyat, sesungguhnya amal itu tergantung daripada niat.” Begitu kuatnya enerji niat itu, menembus ruang dan waktu dan mampu menembus alam kehidupan laut. Ikan yang mempunyai budi pekerti cantik, akan dapat menangkap enerji niat itu.
Sekarang amal, bagaimana jika tidak disertai dengan niat? Di dalam Shalat niat merupakan rukun, bilamana tidak dibaca, maka Shalatnya tiada berbekas. Begitu juga amal-amal lain yang tentu pangkalnya haruslah niat. Seperti sumpah kita di dalam Shalat, “Sesungguhnya Shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata hanya untuk Allah saja.” Pada umumnya, jika manusia mempunyai hajat, dia akan membuat niat, “Kalau aku lulus ujian, aku akan bersedekah.” Ini dinamakan nazar dan bagi para “pejalan” nazar itu harus dipenuhi. Allah berfirman, “Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS Al Insaan: 7)
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Niat merupakan ungkapan jiwa yang langsung ditujukan kepada Allah Taalaa.”
Imam Al Ghazali RA berkata , “Amal tanpa ilmu sia-sia dan orang yang berilmu tanpa beramal adalah gila.” Ini memberikan arti bahwa, ilmu harus mendahului amal. Bila ilmu itu diperumpamakan sebuah cabang, maka niat itu adalah batang pohonnya dan amal itu rantingnya. Nabi SAW juga bersabda, “Barang siapa berniat melakukan kebaikan dan ia tidak mengamalkannya, niscaya ditulis baginya satu kebaikan.”
Banyak hal dalam kehidupan sehari-hari yang menggelincirkan niat. Misalnya adalah memakai minyak wangi atau harum-haruman dan berharap agar memberikan kesegaran dan dapat tercium oleh orang lain. Tujuannya baik, yakni agar orang lain tersenangkan karenanya. Namun terkadang hati bercabang, menginginkan pujian bahwa wangian yang dipakai mahal harganya. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa memakai bau harum karena Allah Taalaaa, maka kelak ia datang pada hari Kiamat di mana baunya lebih harum daripada bau minyak misik. Dan barang siapa memakai bau harum karena selain Allah, maka kelak ia akan datang pada hari Kiamat di mana baunya itu lebih busuk daripada bangkai.”
Kendatipun sudah mengetahui keutamaan niat, dan niat itu merupakan ibadah yang ringan, tapi sesungguhnya berat untuk dilakukan. Tetap saja hati ini lalai. Seperti dalam Shalat, begitu mau menghadap kepada Allah Taalaa, barulah dilantunkan niat. Demikian halnya puasa, dibiasakan setelah Shalat tarawih dibacakan niat secara bersama-sama. Akan tetapi, bila keluar rumah walaupun untuk hal-hal peribadatan, niat sering dilupakan. Misalnya, untuk Shalat Jumat, berangkat mengaji, mengeluarkan uang untuk amal jariah, mencari nafkah atau bekerja, padahal kunci diterima suatu amal adalah niat.
Jelaslah sekarang bahwa niat merupakan cerminan sebuah hati yang selalu bertaut dengan Allah Taalaa, hati yang selalu menghadap Allah Taalaa, karena hakikatnya niat itu ingat kepada-Nya dan kemudian menyerahkan segala bentuk peribadatan itu hanya semata-mata untuk-Nya. Hal ini hanya mampu dilakukan oleh para pendzikir yang tangguh, yang hatinya terpenuhi oleh cahaya keagungan-Nya. Barulah setiap gerak geriknya tertuju hanya kepada Allah Taalaa. Barulah ia mampu berniat atas segala amalnya.
Semoga Allah Taalaa memberikan ilmu niat ke dalam dada kita semua, dan menjadikan niat merupakan barisan terdepan daripada amal-amal yang akan kita kerjakan, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar