Sabtu, 07 November 2009

PELAYAN

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Syaithan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa berdzikir kepada Allah SWT, mereka itulah golongan syaithan. Ketahuilah bahwa, sesungguhnya golongan syaithan itulah golongan yang merugi. (QS Al Mujaadilah: 19)

Di dalam perjalan Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) bercerita tentang Imam Junayd. Ketika itu Imam Junayd berumur dua belas tahun dan diajaklah jalan-jalan oleh paman yang merangkap Gurunya Imam Sary asSaqothy untuk menghadiri pertemuan para Syaikh di Makkah yang sedang membicarakan ”cinta.” Salah seorang Syaikh bertanya, ”Hai orang Irak, apa pendapatmu tentang cinta? Mendengar itu Imam Junayd tertunduk dan menangis, kemudian berkata, ”Cinta adalah seorang pelayan yang meninggalkan jiwanya dan melekatkan dirinya pada dzikir kepada Tuhannya, mengukuhkan diri dalam melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dengan kesadaran yang terus menerus akan Dia dalam hatinya. Cahaya Dzat-Nya membakar hatinya dan dia ikut meneguk minuman suci dari cangkir cinta-Nya. Yang Maha Kuasa terungkapkan kepadanya dari balik tabir alam ghaib-Nya, hingga manakala dia berbicara, dia berbicara dengan perintah Allah, dan apa yang dikatakannya adalah dari Allah. Manakala dia bergerak, dia bergerak dengan perintah Allah, dan manakala dia diam, maka diamnya itu bersama Allah. Dia akan selalu dengan Allah bagi Allah dan beserta Allah.” Mendengar kata-kata Imam AlJunayd itu, semua Syaikh itu pun menangis dan berkata “Tak ada lagi yang perlu dikatakan, semoga Allah menguatkanmu, wahai mahkota para Arifin!”

Betepa malunya, pada hari itu Syaikh mengajak jalan-jalan menembus waktu. Mengaji di dalam dimensi yang lain, diterangkannya tentang dzat, tindakan Allah Taalaa, sifat dan berbagai tingkat tauhid. Sudah beberapa tahun terakhir ini, telah dicoba dengan segala kelemahannya untuk tunduk dan patuh mengikuti perintah-perintah Syaikhnya. Sering dikerjakannya muhasabah (berhitung atas segala tindakan-tindakan yang lalu), merasa bahwa pada tahun-tahun terakhir pejalanannya ini telah banyak mengerjakan amal saleh, bertindak seperti seorang pelayan yang baik, ditekannya sekuat tenaga keakuannya, agar rasa lebih baik dari orang lain. Tiba-tiba Syaikh bertanya, “Coba direnungkan, sesungguhnya siapakah yang menjadi pelayan, diri kita atau Allah Taalaa?”

Kontan saja hati terusik. Tadinya merasa sudah banyak berbakti, ternyata justru terbalik. Jauh nian mengejar ilmu itu. Sesak dada ini, malu terhadap Allah Taalaa dan malu terhadap Guru. Ternyata selama ini bendera “ujub” terus saja berkibar. Beruntunglah Syaikh segera mengadakan upacara penurunan. Jawabannya, benar! Dialah pelayannya, melayani dengan “Maha Sabar.” Sungguh makhluk super bodoh yang mengaku dirinya pandai. Sang pembuat dosa, yang mengaku ahli Surga. Si malas beribadah, akan tetapi berperilaku bagai alim ulama. Dan makhluk yang belum mengenal-Nya, namun mengaku telah menjadi sahabat-Nya.

Seorang Syaikh bermimpi “berjumpa” Allah Taalaa, dan kemudian berfirman, “Katanya engkau mengaku mencintai-Ku, akan tetapi bila malam tiba engkau tidur, sedangkan kekasih bercinta di malam hari.”

Penghambaan, pelayanan dan cinta. Adakah sesuatu yang lebih mulia dalam ubudiyah, selain pengertian ini? Dan karena inilah Allah SWT memperjalankan Rasulullah SAW yang disebut “hamba” melalui miraj. Allah SWT berfirman, “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (QS Al Israa: 1), dan kemudian Allah SWT berfiman lagi, “Lalu ia menyampaikan kepada hamba-Nya apa yang telah Allah wahyukan.” (QS An Najm: 10) Seandainya ada sifat yang lebih agung dari pada penghambaan, tentunya Allah Taalaa akan memberikannya kepada Rasulullah SAW.

Jika seperti itu adanya, tentulah akan berpikir beberapa kali untuk menggunakan kata “hamba” di dalam melantunkan doa-doa. Apakah pantas mengaku-aku diri ini sebagai hamba? Bukankah seorang hamba yang harus terus menerus melayani Rajanya tanpa berharap apa pun? Dan ketika sampai detik ini justru sang Raja yang terus menerus melayani seluruh makhluk-Nya di alam semesta ini, lalu sebutan apa yang pantas untuk kita? Barangkali layak disebut “hamba” hawa nafsu atau “budak” jiwa rendah. Karena seorang hamba akan tunduk kepada yang mengikatnya, dan hati kita masih terikat oleh diri kita sendiri.

Ibarat sebuah bejana,
Seberapa banyak engkau mampu menampung
Samudera yang dibalikkan hingga tumpah?

Semakin jelas, jarak antara manusia dengan Tuhannya, manusia itu siapa dan Tuhan itu apa. Syaikh (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Penjelajahan ke alam-alam lain yang banyaknya tidak kurang dari delapan belas ribu alam, yang dialami oleh para Syaikh, dianggap sebagai mimpi saja.” Semakin terasa juga jarak antara murid dengan Gurunya. Fisiknya saja yang berdekatan. Namun ilmunya tiada batas jaraknya. Berharap memungut tetesan dari wejangan-wejangan dan barakahnya, berharap dari belas kasihannya, berharap dari kasih sayangnya, berharap tiada kepura-puraan lagi di dalam diri ini, agar menjadi seorang “pelayan” yang baik. Namun pun telah mencapai keadaan bagai pelayan, janganlah terbuai, karena saat kita berada di sana, sang Guru terbang, menjunjung tinggi menjadi pelayan dari para pelayan. Sungguh tiada terkejar ilmu itu.

Seseorang bertanya kepada Syaikhuna, “Setiap selesai mengerjakan dzikir-dzikir, lalu duduk dan minum air, mendadak ada rasa kehangatan yang hilang, mengapa seperti itu?” Syaikh menjawab, “Berdzikir berarti mengesakan-Nya, menghamba-hamba, sedangkan minum air, melepaskan syahwat, menghamba kepada hawa nafsu, sehingga rasa-rasa itu sirna, maka diajarkannya orang berkhalwat, berpuasa, agar kelezatan penghambahaan semakin terasa.”

Ternyata Sang Guru pun menjadi pelayan
pelayan dari orang-orang yang mengaku pelayan

Hai para sahabat, contohlah ini!
Janganlah seorang budak hawa nafsu bertingkah bagai Raja

Benar! buta dan buta ...

Rasulullah SAW bersabda, “Yang aku takutkan terhadap ummatku di masa datang adalah panjang angan-angan.”

Saya mendengar Syaikh (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Pangkal daripada kesulitan manusia adalah panjang angan-angan, karena angan-angan sangat dekat dengan keputusasaan. Angan-angan akan membentuk ukuran-ukuran, lalu ukuran-ukuran itu akan terekam di dalam otak dan dijadikannya standar, dijadikannya target, lalu mendorong nafs untuk mengejarnya. Jadilah orang itu pelayan hawa nafsunya. Bagai binatang buas yang keluar dari sarangnya untuk mencari mangsa. Akan diabaikannya hukum agama, dicabik-cabik saudara-saudaranya. Bilamana yang didapat tidak sesuai dengan ukurannya, meronta-rontalah hawa nafsunya, apalagi jika tiada mendapatkan sesuatu apa pun. Keputusasaan memenuhi qalbunya. Tempatnya ada di dalam nafs natiqa, barang siapa aktif berdzikir di tempat ini, sedikit demi sedikit akan terkikislah angan-angannya dan akan terhilangkan kesulitan-kesulitan kehidupannya. Segala sesuatu yang diperoleh akan disyukurinya, yang diingatnya hanya kasih sayang-Nya. Mulailah kekaguman-kekaguman meliput jiwanya.”

Rasulullah SAW bersabda, “Allah tertawa melihat seseorang yang berputus asa, padahal rahmat-Nya sangat dekat.”

Tanpa disadari detak demi detak, nafas demi nafas, waktu berlalu, berjalanlah orang-orang bodoh melintasi sang waktu yang tiada akan kembali. Tinggalah jiwa ini yang harus mempertanggungjawabkan segala tindakkannya. Beruntunglah orang-orang yang merasa dirinya bodoh, tidak tahu bahwa masih banyak yang tidak diketahuinya.

Bagai orang buta yang berjalan menyuguhkan hidangan untuk-Nya
Padahal Dia yang menuntun menuju kemeja-Nya

Siapakah pelayannya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar