Sabtu, 07 November 2009

BUMI

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS Al Israa: 37)

Ketika sombong datang, seketika itu pula Surga berubah menjadi neraka. Ingatkah pembangkangan iblis kepada Allah Taalaa pada saat ia menolak bersujud dihadapan Nabiyullah Adam AS? “Aku diciptakan dari api, sedangkan manusia dari tanah, aku lebih mulia daripadanya,” kata iblis. Orang yang sombong adalah orang merendahkan dirinya sendiri. Ia diperbudak oleh nafsunya. Biasanya ia pun tidak mampu menjaga badannya, dada akan dibusungkan, kepala ditegakkan. Bagi si sombong, bumi sampai-sampai tak ridha dan seakan berdoa, “Yaa Allah matikanlah si sombong itu, masukkanlah ke dalam perutku, biar aku himpit dia.” Berulang kali Syaikhuna memerintahkan untuk “Merendahlah bagai bumi!, merendahlah bagai bumi!, merendahlah bagai bumi!”

Inilah sekelumit riwayat tentang bumi ketika Nur Muhammad berdialog dengan anasir-anasir alam, yaitu angin, api, air, dan bumi. Diriwayatkan oleh Ibn Abbas RA, “Ketika angin terlalu membesar-besarkan dirinya, berkatalah Nur Muhammad, “Wahai angin janganlah engkau berlaku sekehendakmu, sesungguhnya engkau itu hamba para nelayan.” Demikian ketika api terlalu bangga dengan kemegahannya, “Wahai api janganlah engkau membesar-besarkan dirimu, yang membunuh engkau itu air dan yang menjadikan engkau itu angin, sesungguhnya engkau menjadi hamba orang banyak.” Demikian halnya air yang terlalu bergembira dan membesar-besarkan dirinya. Hanya bumilah yang sangat rendah diri tatkala berjumpa dengan Nur Muhammad. Maka sang bumi didekap, dipeluk dan diciuminya, “Yaa Ilahi, Yaa Rabbi, Yaa Tuhanku, Engkaulah jua yang Maha Mengetahui, Maha Mendengar lagi Maha Melihat bahwasanya penuhilah hamba-Mu ini daripada empat anasir itu.” Maka setiap manusia yang ada di muka bumi ini, bertabiat seperti anasir tadi, sebagian ada yang lebih menonjol, bertabiat api, yaitu hangat; bertabiat angin, yaitu keras; bertabiat air, yaitu sejuk basah, dan bertabiat bumi, yaitu basah kering, tetapi murah merendahkan dirinya.



Mina, hari kedua. Syaikh (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Selesai melontar, jika masih ada umur, kita langsung pergi ke Masjidil Haram untuk Thawaf ifadhah.” Sugih menyiapkan batu kerikil sebanyak-banyaknya. Satu kantong kecil diberikan kepada Syaikh. Setelah Shalat Subuh dimulailah perjalanan itu. Kali ini agak sedikit longgar, tidak seperti kemarin. Walaupun demikian kewaspadaan terus dijaga, dimulai dari Ula, Wustha dan terakhir Aqabah, masing-masing tujuh kali lemparan. Sugih merasakan ada “rasa” yang hilang, rasa yang berbeda dengan kemarin. Getaran-getaran itu tak lagi berkunjung. Tapi untuk menghibur dirinya, ia berkata di dalam hati, “Ah aku kesini tidak untuk mencari rasa-rasa itu, akan tetapi aku mencari Allah Taalaa.”

Selesai melontar, Sugih antri di loket untuk membeli tiket bus ke Masjidil Haram. Tarifnya sepuluh real. Saat itu, keletihan yang luar biasa datang. Dan begitulah, di saat keletihan hinggap, mata tidak lagi mampu untuk “melihat,” telinga tidak lagi digunakan untuk “mendengar.” Semua memikirkan dirinya sendiri. Dilupakannya Syaikhnya. Sifat-sifat kikir mulai muncul. Itulah dunia! Tabiat anasir yang angkuh mulai menguasai akalnya. Sesampainya di Masjidil Haram, hati semakin gentar. Jika di luar masjid saja manusia sudah begitu tumpah ruah, bagaimana pula di dalam? Sungguh tak terbayangkan. Syaikh berkata, “Sebelum berThawaf, marilah kita makan terlebih dahulu.” Dan ketika itu kejadiannya berulang lagi. Masing-masing diri mengurus makannya, sementara sang Syaikh dilupakan. Sugih teringat sebuah hadits, “Belumlah dikatakan beriman seseorang, bilamana ia lebih mencintai dirinya dibanding Nabinya.” Mereka lupa bahwa para ulama itu warasatul Anbiya, pewaris para Nabi. Sedih hatinya harus mengalami hal-hal yang seperti itu.

Thawaf ifadhah, merupakan rukun Haji, tidak seperti Thawaf biasa. Seluruh lantai di Masjidil Haram dipenuhi manusia, penuh sesak. Seumpama semut-semut yang sedang bergerombol mengitari sang Kabah. Gelombang lautan manusia memisahkan Sugih dari rombongannya. Saat itu panas terik, tenaganya pun sudah payah. Sugih pasrah, dia hanyut bagai perahu di tengah samudra, terombang-ambing kian kemari. Dipaksanya terus menyebut Laa illaaha illa Allah. Di depannya ada seseorang yang berjubah sangat rapi, berwarna coklat dan bersorban hitam, dia teringat perkataanya Syaikhnya, “Jika engkau melihat rombongan jamaah Haji dari Iran (Persia), ada seseorang yang berjubah coklat dan bersorban hitam, dialah kuturunan Sayyidina Ali, itulah tradisi untuk menghormati ahlul bait di sana, pasanglah rasa takzim.”

Ingat pesan itu, Sugih seperti mendapatkan tenaga tambahan. Dia ikuti gerak geriknya. Dicobanya agar tidak berhimpit, tapi apa daya tak ada kemampuan sama sekali untuk menahannya. Terus dipasangnya rasa takzim, diperhatikannya orang itu. Ia terlihat tidak pernah menoleh ke Kabah. Pandangannya tertunduk. Seorang Syaikh berkata, “Tatkala pertama kali aku berhaji, yang terlihat olehku adalah Kabah. Lalu aku berhaji lagi yang terlihat olehku adalah Kabah dan pemilikNya. Kemudian aku berhaji lagi, dan yang terlihat olehku pemilik Kabah saja.” Inilah hal yang secara berulang-ulang dilantukan oleh Syaikh (semoga Allah merahmatinya), manakala Shalat Maghrib berjamaah, Fal ya’buduu Robbahaadzalbait (maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik Kabah). Semoga saja “keadaan” seperti itu, bersarang di hati seluruh jamaah Haji yang berada di sini. Amiin yaa Allah, yaa Rabbal alamiin.

Hati menjadi sepi bila pergi ke rumah kekasih dan kekasih tiada.
Akankah engkau menangis takjub karena keindahan rumahnya?
Bukan kehadirannya?

Syaikh (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Perhatikan gerak hati pada saat Thawaf, mana yang lebih banyak, dzikrullah atau keluh kesah.”

Dia terduduk di bukit Shafa. Dicarinya kian kemari Syaikh dan para sahabatnya belum juga dijumpai. Dia berharap akan terlihat oleh para sahabat ibu-ibu yang mengambil Haji tamatu. Pastilah mereka sedang Sai, pikirnya. Lalu dicobanya mengingat-ingat pembicaraan terkahir, apakah harus pulang ke Mina ataukah tinggal di Makkah? Seraya menunggu, dikerjakannya dzikir latif. Namun akhirnya diputuskan untuk kembali ke Mina, setelah menunggu lebih dari satu jam, tapi tak kunjung berjumpa.

Sugih menangis. Ia berjalan seorang diri. Ia merasa sendiri di tengah keramaian. Bukannya menangis karena takut, namun karena datangnya “rasa,” bahwa keterpisahan itu tak dapat dihindari. Dan barangkali itulah makna hidup di dunia. Cepat atau lambat, akhirnya akan berpisah juga. Yang jelas adalah keterpisahan karena takdir kematian, berselimutkan bumi. Mudah-mudahan sang bumi ridha kepada kita. Dan marilah dari sekarang kita belajar untuk berpisah, berpisah dari makhluk, berpisah dari apa pun, kecuali Allah semata. Laa illahaa illa Allah.

Mengapa orang-orang yang paling cantik adalah mereka yang berdoa di malam hari? Jawabnya adalah bahwa mereka seorang diri saja dengan Yang Maha Mengasihi, yang menyinari mereka dengan Cahanya-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar