Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalanNya supaya kamu mendapat keberuntungan. ( QS Al Maidah: 35)
Sugih kecil berumur tujuh tahun. Ia sering menghabiskan waktunya di sawah sambil membantu ayah. Sambil melamun, “Andaikata aku bisa terbang,” dibuatnya mainan dari janur yang menyerupai pesawat terbang. Ia berlari-lari di pematang, diantara sawah-sawah, sambil membawa-bawa mainannya, “ngung…ngung…ngung…” Sementara dari kejauhanan terlihat ibunya datang membawakan makanan, pertanda waktu Dzuhur akan segera tiba. Usai bermain, bersama kedua orang tuanya menikmati makan siang di pinggiran sawah, di bawah pohong jati. Makan siang yang diiringi oleh gemericik air, dedaunan yang bergesek tertiup angin, berbisik memuji Allah SWT. Semut pun seakan iri menyaksikan keakraban mereka. Bias kasih sayang orang tua kepada anaknya terpendar menyebar ke alam sekitarnya. Kemudian dengan berjamaah ia melakukan Shalat Dzuhur.
Sambil melepas lelah sang ayah berkata, “Tadi kita melakukan Shalat bersama, artinya kita memuji, mengakbarkan, mensucikan dan memohon kepada Allah Taalaa.” Sugih bertanya, “Siapakan Allah, wahai ayah?” Sang ayah termenung mencari kata-kata yang tepat agar Sugih dapat mengerti, “Dialah Rajanya manusia.” Kemudian sugih bertanya lagi, “Seperti apa Dia dan tinggal dimana Ayah?” Sang ayah menjawab “Dia tidak serupa dengan sesuatu apa pun, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat, Dia tidak menetap di suatu tempat, Dia ada dimana-mana.” Mendengar jawaban seperti ini, Sugih mulai mengerutkan dahinya, pertanda bingung. Ayahnya tersenyum, dan mungkin dalam hatinya berkata, “Alhamdulillah yaa Allah, Engkau gerakkan hati anakku untuk mencari-Mu, semoga Engkau jadikan anakku ini orang yang mengenal-Mu dengan sebenar-benarnya. Amiin yaa Allah yaa Rabbal Alamiin’.
Ayahnya berpesan, “Jikalau engkau ada umur sampai usia dewasa, berpeganglah erat-erat kepada tali agama, tali yang sambung menyambung sampailah kepada Rasulullah SAW. Carilah Guru yang mempunyai garis silsilah sampai kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dan berjihadlah di jalan itu, semoga engkau beruntung.”
Itulah bentuk kecintaan yang tinggi dari seorang ayah kepada anaknya. Tidak melulu bicara masalah dunia, akan tetapi pujian dan doa kepada Allah Taalaa yang meluncur dengan indah. Betapa mempesonakan kejadian di atas tadi. Satu keluarga yang hidup di suatu tempat yang jauh dari hiruk pikuk duniawi, tiada maksiat yang dibuatnya, tiada pengaruh buruk yang mempengaruhi jiwanya, tiada pujian-pujian yang dia harapkan dari makhluk. Hatinya terpaut melulu hanya untuk Allah Taalaa.
Syaikh Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Terlalu banyak orang menilai ulama dari penampilan lahiriyahnya saja, kepandaian berbicaranya, banyaknya hadits dan ayat Al Quran yang dihapal atau banyak jamaahnya. Sesungguhnya mereka itu tertipu semua. Terpikirkah oleh mereka bahwa, seorang Waliyullah dapat saja berada di sawah dengan berpakaian ala kadarnya, terkadang bajunya miring sebelah, kaosnya robek di sana sini, kehidupannya sangat-sangatlah sederhana, akan tetapi terlihat di wajahnya cahaya bekas-bekas ia beribadah dengan kerasnya, itulah manusia yang jasadnya berada di bumi akan tetapi ruhnya berada di langit.”
Seorang Waliyullah akan mencahayai kehidupan di sekitarnya. Masyarakat sekelilingnya akan terbias, menjadi gemar beribadah. Tanah dan tumbuh-tumbuhan menjadi subur, burung-burung pun akan bernyanyi dengan gembiranya, ikan-ikan di sungai menari-nari dengan riangnya, masjid-masjid menjadi makmur. Itulah pertanda kasih sayangnya membias terpendar ke segala arah, kemana-mana.
Jalan pulang seusai melontar Jumrah terakhir menuju ke tenda penginapan di Mina, jaraknya sekitar tujuh kilometer. Diukur dengan berjalan kaki sekitar empat puluh menit lamanya. Sugih berjalan bersama Gurunya Syaikh Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya), dalam keadaan sangat letih. Ini karena jamaah Haji Sugih berhaji dengan cara Ifrad. Dua puluh empat hari sudah, melulu hanya memakai kain Ihram. Warna kain ihramnya sudah kecoklat-coklatan dan baunya sudah tidak karuan. Selain matanya memerah dan wajahnya pucat, jalannya pun agak gontai. Di usia yang ke empat puluh empat ini, memang terasa agak berat untuk berjalan sejauh itu. Dia mengambil nafar tsani, satu hari lebih banyak dibanding dengan jamaah Haji nafar awal.
Mina sudah sedikit longgar dan sepi. Tepat di bawah terowongan Mina, Gurunya mengusap mukanya sambil berkata, “Sudah gugurkah keakuanmu, Sugih?” Kemudian diusap lagi bagian belakang kepalanya, dan berkata, “Sudah gugurkah keinginanmu, Haji?” Itulah makrifatullah, itulah sayap untuk terbang menuju Allah Taalaa, yakni tatkala gugur keakuan dan keinginan-keinginanmu.” Sugih menangis mendengar Gurunya berkata seperti itu. Lututnya gemetar. Hatinya tersayat-sayat seraya berdoa, “Yaa Allah angkatlah derajat Guruku setinggi-tingginya, muliakanlah dia yaa Allah, berkatilah dia dan gugurkan segala kesalahannya yaa Allah.”
Di Rubat (tempat khalaqah dzikir), Syaikh (semoga Allah merahmatinya), tengah memberikan hidangan dan menyuguhkan minuman dari ceretnya. Syaikh lantas berkata, “Pejamkan matamu, bayangkan sebuah mangkuk, kemudian bayangkan lagi di sebelah mangkuk itu ada lilin. Sekarang hilangkan lilin itu, biarkan mangkuk itu sendiri.” Akankah lilin itu menghilang dari bayangan? Tidak! Tetap saja lilin itu ada, walaupun berulang-ulang dicobanya untuk menghilangkannya. Tidak seperti menggambar lilin di atas kertas, bila ingin ditiadakan, tinggal dihapus saja. Inilah pengaruh. Sesuatu yang mempengaruhi ke dalam hati, yang masuk melalui pendengaran, yang kemudian dicatat di dalam otak sebagai alat perekam.
Hati manusia pun mempunyai bala tentara berupa mata, hidung, mulut dan kulit. Tentara yang pekerjaannya menyergap sesuatu yang dilihat, didengar atau dirasakan, untuk kemudian dipersembahkan kepada hati dan dicatat di dalam otak. Ketika seseorang sedang Shalat atau melakukan ibadah lain, pikirannya kemana-mana, otaknya memperlihatkan sesuatu yang pernah direkamnya, sungguh sulit untuk merasakan kekhusyukan. Itu pertanda ingatannya penuh dengan keduniawian, pertanda hatinya tidak tenang. Nabi bersabda, “Barang siapa Shalat dua rakaat dan tidak mengingat apa-apa kecuali Allah, maka diampunilah segala dosanya.”
Allah SWT berfirman, “Maka sembahlah Aku dan dirikanlah Shalat untuk berdzikir (mengingat) kepada-Ku (QS Thaahaa: 14), dan “Ingatlah, hanya dengan berdzikir hati menjadi tenteram.” (QS Ar Rad: 28). Agar Shalat tidak mengingat-ingat hal yang lain, agar tidak seperti Shalatnya “budak leutik” atau anak kecil, Syaikh (semoga Allah merahmatinya), mengajarkan beberapa teknik atau kaifiat-kaifiat dzikir. Ada dzikir nafas, dzikir detak jantung, dzikir saat berkendara, dzikir yang berbunyi, dzikir yang diam, dzikir berjalan di hutan, bermacam-macam dzikir dengan teknik yang teramat tinggi. Barulah akan terpancar Nurullah ke dalam dada, ke dalam qalbu sang pendzikir. Apa yang diingatnya hanya Dia, tiada yang lain. Dalam keadaan itu, barulah Shalatnya menjadi baik dan ia terbang dengan ketahuidannya.
Dituangkannya air dari ceret ke dalam cangkir murid-muridnya. Beliau bercerita, “Ada jenis semut yang pada saat tertentu melakukan semedi. Ia berpuasa, tidak makan tidak minum, tidak berbicara, tidak bertemu makhluk lain. Setelah empat puluh hari lamanya, jadilah ia laron, dia bersayap, sayap makrifatullah, dia terbang, terbang menuju ‘Cahaya.’ Tidak dipedulikannya yang lain, yang dicarinya hanya ‘Cahaya.’ Dia mabuk! Dia ingin bersatu! Melebur kepada sang ‘Cahaya’ itu.”
Itulah tujuan berhaji. Berjuang agar gugur semua keakuan dan keinginan. Bermujahadah tanpa henti agar mencapai musyahadah, memperoleh kejelasan, memperoleh sayap-sayap seperti laron-laron tadi. Lilitan dua lembar kain ihram, seperti kafan agar merasa “mati.” Rasulullah bersabda, “Mutu qobla anta mutu, matilah engkau sebelum engkau mati.” Ketika Sugih baru saja menyempurnakan Hajinya di bawah bimbingan Gurunya, Syaikh (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Munafiknya seorang Guru, sama dengan setinggi-tingginya ‘keadaan’ yang dicapai oleh seorang murid.”
Syaikh (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata, “Tatkala hati manusia condong pada apa yang ada di dunia ini; pada harta, istri dan anak, ataukah sesuatu yang dicintai dan membuatnya lupa kepada Allah, maka orang itu memasuki pintu gerbang kemusyrikan. Tidak terasa memang, saat itu ia sedang mempertuhankan sesuatu yang dicintainya. Saat itu Allah disirnakan dari dalam hatinya, sedangkan Allah terus membiayai dan memberikan kenikmatan kepada kita. Saat itulah kecintaan Allah tetap berjalan akan tetapi saat itulah kekurangajaran kita kepada Allah menjadi-jadi, berhati-hatilah.”
Alangkah bahagianya ia berada di bawah bayang-bayang telapak kaki seorang Guru. Memungut ilmu yang berjatuhan darinya, dari Syaikh yang tangguh, penerus silsilah Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (semoga Allah merahmatinya). Semogalah ‘Nuurun alaa Nuurin’ memancar dari Gurunya kepadanya, bagai air bah yang memporak porandakan penyakit-penyakit hatinya. Jikapun setetes anggur telah terminum dari cangkirnya nan indah, niscaya sayap kecintaan pun akan menjadi miliknya. Fanau Syaikh, inilah tahap awal seorang murid menapaki jalan tasawuf.
Semoga yaa Allah, keinginannya sewaktu kecil untuk bisa terbang, Engkau kabulkan. Berilah sayap nan indah-Mu yaa Allah, agar Sugih dapat terbang menjumpai-Mu, mengenal-Mu dan selalu dalam perlindungan-Mu yaa Allah, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin.
Guruku terbang
Aku berjalan
Tiada akan pernah bertemu orang yang terbang dengan orang yang berjalan
Tak mengapa! orang terbang pun meninggalkan jejak
Jejaknya menjadi cahaya
Biarlah aku ikuti...ikuti...cahaya itu
Pergi kesuatu tempat yang tak bertempat
Kejamuan pesta yang tak berpelayan
Bukankah bayangannya akan sampai juga!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar