Sabtu, 07 November 2009

ANGIN

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Perumpaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, adalah seperti angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS Ali Imran: 117)

Saat itu beberapa sahabat berkhalwat. Belum berlalu satu malam, seorang sahabat sakit dan Syaikh berkata, “Pulanglah engkau, sesungguhnya engkau telah menyelesaikan khalwatmu.” Sahabat itu terheran-heran dan kemudian berpamitan pulang. Sugih bertanya-tanya dalam hati, “Bagaimana mungkin bisa begitu. Dia belum lagi merasakan lapar di siang hari, kantuk dimalam hari, dan ngilu diseluruh persendian, sedangkan pekerjaan masih sangat banyak.” Tapi itulah akal. Dia bersahabat dengan nafsu yang terus saja mengajak hati bercakap-cakap, seolah-olah dia mengerti mana yang telah selesai dan mana yang belum selesai berkhalwat. Syaikh (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Manusia itu hakikatnya tidak pernah sendirian. Sekalipun dia menyepi di gunung, di gurun pasir, selalu ada cakap-cakap hati, terkecuali orang-orang yang hatinya telah tercerahkan.”

Sebelum memasuki ruang khalwat diwajibkan untuk mandi sunnah terlebih dahulu. Syaikh memulainya dengan mengumandangkan adzan. Para salik diajaknya untuk menuju ruang khalwat dengan melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu. Kemudian Syaikh memberikan wejangan, “Pasanglah rasa untuk terus menerus hanya bersama Allah SWT, seolah-olah kita semua ini sedang menjemput kematian. Jangan terlepas dari keadaan berwudhu dan berdzikir terus menerus, dan bilamana terlupa bacalah doa munajat. Senantiasalah menghadap kiblat, tidak diperkenankan berbicara lisan ataupun dengan isyarat. Jangan menyandarkan tubuh dan bilamana letih tidurlah. Selalu dalam keadaan berpuasa baik lahir ataupun bathin dan Shalat fardhu harus berjamaah. Semoga kalian beruntung.”

Begitulah tanda kencintaan seorang Syaikh. Para sahabat diajaknya “berjumpa” dengan Allah Taalaa. Sejenak melupakan hiruk pikuknya kehidupan, melupakan siksa dunia yang menghimpit ini dan belajar mengikuti pekerjaan para kekasih Allah SWT. “Yaa Allah tinggikan derajatnya, hapuskanlah dosa-dosa keluarganya, tumpahkan rahmat-Mu kepadanya.”

Di dalam khalwat ada dzikir ataqoh, yakni menyebut kalimat Laa illaaha illa Allah tujuh puluh ribu kali banyaknya. Syaikh (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa di dalam hadits dikatakan, ”Barang siapa berdzikir Laa illaaha illa Allah tujuh puluh ribu kali banyaknya, maka diharamkan ia dari api neraka.”

Khalwat haruslah dilakukan dalam keadaan berpuasa terus menerus, yakni puasa yang khusus. Makan sahur dan berbuka puasanya diatur oleh Syaikh. Di hari pertama, berbuka puasa dengan nasi sekepal, labu siam dan air putih. Tak berbeda dengan makan sahur, yang sangat-sangat sederhana. Keadaan berpuasa ini tidak saja disiang hari, melainkan juga berlaku juga dimalam hari. Wajiblah hukumnya mengunyah dan kumur-kumur setiap makanan ataupun minuman yang masuk kemulut tiga puluh tiga kali banyaknya seraya menyebut Laa illaaha illa Allah. Hati terus menerus harus terpaut pada Allah Taalaa.

Pada hari-hari berikutnya Sugih sudah tidak lagi mengharapkan berbuka puasa ataupun makan sahur. Dia asyik tenggelam di dalam lantunan dzikir-dzikir. Sesekali membaca Al Quran atau mendirikan Shalat-shalat sunnah. Hal terberat yang dirasakannya bukannya menahan lapar dan haus, akan tetapi rasa riya. Hati menjadi bercabang kepada salik yang lain, “Lihatlah Shalatku khusyu, dzikirku tak putus dan aku gemar membaca Al Quran.” Kendatipun berulang-ulang ia hantam rasa itu dengan kalimat Laa illaaha illa Allah dan istighfar, akan tetapi kerap datang dan datang lagi. Tak ubahnya angin yang menerpa apa saja yang ada di depannya.

Oh betapa lengah dan bodohnya. Terlebih saat menjelang hari-hari akhir. Pada saat itu seakan ada hawa yang tengah bersahabat dengan syaithan. Lantas disampaikannya keburukan yang dilakukan oleh salik kepada salik yang lain. Betapa lengahnya, betapa lengahnya. Sementara, disaat lain terlihat ada yang sedang bertanya sesuatu atau berbicara bukan kepada Syaikh, dzikir bersama-sama, dan banyak tertidur. Syaikh tak mampu menyembunyikan kekecewaannya, dipaksanya tersenyum dan dipaksanya berbicara, “Khalwat merupakan ibadah yang khusus. Meskipun kita masih dalam taraf belajar, semoga saja dari rangkaian peribadatan yang baru kita kerjakan di sini, Allah Taalaa berkenan menerimanya.” Sedih memang rasanya. Sementara Guru mengajak para sahabatnya untuk bertemu dengan Allah Taalaa namun “ditolaknya” dengan melanggar adab-adab berkhalwat. “Yaa Allah, ampunilah segala kesalahan-kesalahan kami, dan perkenankan kami untuk mengikuti khalwat dilain kesempatan, amiin Yaa Allah Yaa Rabbal alamiin.”



Lagi-lagi rombongan Sugih, mendapat bus paling akhir di kelompoknya. Kejadian ini berulang seperti saat meninggalkan Makkah menuju Arafah. Seusai Wukuf, perjalanan dilanjutkan ke Mina untuk melaksanakan Jumrah Aqabah. Sebelumnya diwajibkan mabit di Muzdalifah. Syaikh dan empat orang sahabatnya harus lebih dulu berangkat, sedangkan lainnya ditinggalkan. Ini bukan kemauannya, akan tetapi ketentuan panitia yang mengatur. Dimana-mana terjadi kemacetan. Mengambil batu di Muzdalifah pun tidak bisa lama. Dan akhirnya sampailah di Mina. Bayangkan saja jarak dari Arafah ke Mina kira-kira tujuh kilometer, namun harus ditempuh dalam waktu delapan jam. Memasuki waktu Subuh baru tiba di Mina, padahal berangkatnya jam delapan malam. Alhamdulilah, ternyata dari kelompok tiga belas, rombongan bus Sugih, termasuk yang tiba paling awal, sedangkan lainnya ada yang tiba setelah waktu Dzuhur.

Nampak dari atas, Mina adalah gelombang lautan tenda. Agak berbeda dengan tenda di Arafah, tenda di Mina dilengkapi pendingin udara. Semua nampak sama bentuknya, putih meruncing ke atas, seolah membawa pesan “ayo pertajam dan perkuat tujuanmu untuk mencari Allah Taalaa.” Karena masih terlihat kosong, dicarinya tempat yang tumaninah. Dan alhamdulillah, semuanya mendapatkan tempat, satu tenda bersama-sama dengan Syaikh. Namun ketika rombongan lain tiba, nampak ada keributan kecil yang terjadi. Mereka saling berebut tempat. Ada yang melemparkan tikar, beradu mulut dan ada pula yang berteriak-teriak. Ibu-ibu banyak yang menangis. Mereka lupa bahwa di badannya masih terbalut kain ihram. Semua berlangsung seperti hukum rimba. Siapa kuat dia yang mendapatkan tempat, seolah-olah ada hak yang lebih dibading jamaah yang lain. Melihat perlakuan yang demikian, karena tidak tahan, ada beberapa orang sahabat yang turut hanyut dalam keributan kecil ini. Syaikh hanya terdiam. Ditatapnya para murid satu persatu. Syaikh seakan mengingatkan bahwa, “Wahai para sahabat, Mina adalah keimanan. Di situlah keimanan akan diuji, penuh cobaan-cobaan. Satu hari di Mina terasa satu bulan Di situlah tempat mengambil keimanan, waspadalah para sahabat!.”

Tiba saatnya mengerjakan Jumrah Aqabah. Syaikh (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata, “Jumrah, adalah melontar atau melempar sifat-sifat penyakit hati yang membatu, dan bukankah itu mujahadah?” Hari itu bertepatan dengan hari raya Qurban, 10 Dzulhijah. Syaikh dan para murid masing-masing telah membeli seekor kambing untuk qurban. Syaikh (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Berqurbanlah para sahabat, kurbankan jiwa rendahmu.” Semula Jumrah direncanakan seusai Shalat Subuh, akan tetapi karena sahabat yang lain belum tiba, maka diundur hingga menjelang waktu Ashar.



Hampir semua sahabat tampak pucat. Maklum beberapa hari tidurnya hanya sekejap. Melihat debu Mina yang berterbangan dan membuat sekelilingnya menjadi agak gelap, sungguh menciutkan hati. Bergemuruhnya suara lautan manusia berbusana putih yang bergerak menuju satu titik tempat melontar, benar-benar menggentarkan. Langkah kaki pun lantas diperlambat. Doa-doa dilantunkan, “Yaa Allah, aku serahkan segala urusanku kepadamu.” Dan alhamdulillah, berdesakkannya lautan jamaah itu tidak terlalu dirasakan. Sungguh perasaannya benar-benar hanyut ingin segera menghempaskan seluruh penyakit hatinya. Dimulai dengan membaca Bismillahi Allahu Akbar, dilemparkannya batu pertama ke sumur Aqabah seraya berdoa, “Yaa Allah, aku lemparkan sifat-sifat penyakit hatiku yang membatu, kukuhkan hatiku dijalan-Mu yaa Allah.” Demikian lontaran ini dilakukan tujuh kali banyaknya.

Usai melontar, Sugih menengok kebelakang. Para sahabat yang lain terlihat terhimpit berdesakkan. Seraya berbalik ia ingin mencoba membantu para sahabatnya, namun terdengar suara Syaikhnya, “Sugih, kembalilah!, carilah tempat yang aman!” Ia dilarang membantu para sahabatnya. Situasinya memang tidak memungkinkan dan justru akan membahayakan dirinya. Segera dicarinya tempat yang terbuka agar bisa bernafas dengan lega. Suasananya sungguh semrawut, gaduh, dan tidak beraturan. Belum lagi satu menit beristirahat, dilihatnya seorang sahabat terhuyung-huyung. Dengan cepat dipeluk dan dibawanya duduk bersender di tiang beton. Lantas dikipasi, diberi minum, direbahkan dan diangkat-angkat perutnya beberapa kali, berharap agar memperoleh oksigen yang lebih baik. Jamaah Haji lain nampak berkumpul ingin membantunya. Subhanallah, tidak lebih dari sepuluh meter, tiba-tiba saja terlihat mobil ambulance. Dengan segera Sugih mengambil inisiatif membawanya kesana. Sang sahabat segera diberikan oksigen dengan menggunakan alat bantu. Alhamdulillah.

Kami menunggu di tempat yang sudah ditandai. Plong rasanya telah selesai melempar. Lengkaplah sudah semuanya berkumpul. Dan tiba gilirannya untuk Tahalul awal, memotong rambut sesuai aturan-aturan tertentu. Syaikh berkenan memotong rambut murid-muridnya, dimulai dari Sugih. Sambil memotong Syaikh (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Haji, ini adalah jiwa rendah, ini adalah keakuan-keakuan, dan ini adalah keinginan-keinginan.” Kemudian Syaikh memberikan gunting kepadanya, “Potonglah rambutku, kalian lebih mulia daripadaku.” Subhanallah, bagai tersambar halilintar hati ini, bergetar seluruh jiwa dan ragaku. Dan dengan memasang rasa takzim, dipotongnyalah rambut Gurunya, “Yaa Allah, apa-apa yang Engkau turunkan kepada Guruku, turunkanlah juga kepadaku.” Diberikannya gunting itu kepada sahabat yang lain untuk memotong rambut Syaikh. Tak ada yang mampu menahan tangis. Seluruhnya hanyut dalam keharuan. Baru saja mereka menyelesaikan serangkaian peribadatan yang keras, baru saja terlepas dari aturan-aturan berihram, kecuali berhubungan suami istri.



Kembali ke tenda, dengan membawa-bawa rasa lelah, panas, lapar, haus dan diselimuti kesedihan. Syaikh (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Mari lewat sini.” Sementara seorang sahabat memberikan saran, “Menurut saya lewat sini Syaikh, dulu waktu berhaji saya melalui jalan ini.” Kemudian terjadilah pembicaraan kecil diantara para sahabat, hingga akhirnya Syaikh mengikuti keinginan sahabatnya. Namun apa daya, hasilnya adalah tersasar kesana kemari, terus berputar-putar dan terus menimbulkan usul ini dan itu. Dan untuk menghindari panas, masuklah ke kompleks tenda jamaah Pakistan.

Sementara beristirahat beberapa saat, tiba-tiba ada orang bertanya, “Dimanakah tenda jamaah Indonesia?” Sugih tidak langsung menjawab, melainkan diperhatikannya orang itu. Sepertinya pernah bertemu. Sugih teringat! MasyaAllah, dialah sahabat pengajian dari Lubuk Linggau. Dipeluknya sang sahabat, rindu rasanya, teringat manakala berziarah kesana bersama Syaikh. Trenyuh hatinya mengingat kehidupan di sana. Sangat-sangatlah sederhana. Jamaah pengajiannya datang dari gunung-gunung, menggunakan obor sebagai penerang. Mereka ihklas memberikan apa saja demi terselenggaranya pengajian. Mereka telah terlebih duhulu mengorbankan “jiwa rendahnya.” Maha Suci Engkau yaa Allah yang telah mempertemukan seorang sahabat di tempat yang suci ini dengan Gurunya, dengan sahabat-sahabatnya, manakala kita semua sedang tersasar.

Memang demikianlah kiranya, sesejatinya kita semua ini sedang tersasar dalam mengarungi kehidupan. Haji adalah isyarat untuk meluruskannya. Tetaplah terus seolah berihram, tetaplah tunduk patuh kepada Syaikhnya, tetaplah berkasih sayang kepada semua makhluk, tetaplah merasa tiada yang lain kecuali hanya “Dia.”

Yaa Allah aku lepaskan kain ihram yang setia menemaniku ini, jadikanlah ihram ini terpatri di dalam hatiku, jadikanlah hatiku ini hanya berpaling kepadaMu, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar