Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Ingatlah ketika Musa berkata kepada keluarganya, “Sesungguhnya aku melihat api. Aku kelak akan membawa kepadamu kabar daripadanya, atau aku membawa kepadamu suluh api supaya kamu dapat berdiang.” (QS An Naml: 7)
Seseorang bertanya kepada Imam Junayd, “Apakah baik bagi seseorang murid untuk mendengarkan cerita-cerita?” Ia menjawab, “Cerita-cerita adalah salah satu tentara Allah, yang menguatkan Qalbu para murid,” kemudian beliau membacakan ayat Al Quran,“Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.” (QS Huud: 120)
Seorang arif pernah berkata, “Tuhan adalah Api dan aku adalah kayu, maka bakarlah kayu itu, tinggalah Api.” Api dapat membakar benda yang ada menjadi tiada. Jikalau diibaratkan benda adalah “hawa nafsu,” maka untuk meluluhkannya dibutuhkanlah “Api.” Allah SWT berfirman, “Kami menjadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir.” Bagi seorang musafir, sangpejalan, apa yang dicari hanya satu. Tiada yang lain yang mengusik hatinya, tiada yang lain yang terpusat dalam pikirannya, kecuali hanyalah Allah semata. Dia membutuhkan api sebagai penunjuk, penghangat dan pembakar, sebagai sahabat di dalam perjalanannya. Imam Sibly berkata, “Cinta adalah api dalam hati yang membakar segala sesuatu selain kehendak sang Kekasih.”
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Tidak akan ada doa maupun ibadah akan sampai kepada-Nya, apabila pengesaan Allah, seesa-esanya masih terkotori dengan hawa nafsu. Bahkan Allah akan menyuruh Malaikat melemparkan kepada muka si pendoa itu. Lihatlah dalam kehidupan sehari-hari. Diajarkannya sebelum tidur berdzikir, maka tidur, hidup, nafas, tanda tiada selain Allah yang wajib disembah. Nafikan (tiadakan) yang lain, isbatkan (kukuhkan) Allah saja di dalam hati. Agar semua butir-butir darah, tulang, daging dan unsur-unsur yang ada di dalam tubuh, yaitu anasir-anasir yang berupa air, api, angin dan bumi yang terkumpul di dalam tubuh, seluruhnya akan menyebar dengan kebulatan menyebut nama Allah, lalu akan selaras dengan alam semesta. Barulah Allah akan ridha kepada manusia yang selaras, karena matanya, telinganya, butir-butir darahnya, rambutnya, semuanya sudah terbiasa menyebut nama Allah. Dan karena itu pula kerikil-kerikil, dedaunan, pasir-pasir, bumi, pepohonan dan akar-akar akan ridha dilewatinya. Semuanya bertasbih bersama orang yang selaras itu. Itulah hasil daripada orang-orang yang ahli di dalam berdzikir.
Akan tetapi untuk memasuki pintu gerbang yang satu ini tidaklah mudah. Awalnya, sang hati harus dibersihkan dengan ‘dzikir pencerahan hati’ agar hati menjadi terang, menyinari seluruh pancaindra serta akal. Tidaklah ilmu-ilmu ini diperoleh dari buku-buku, tidaklah ilmu ini didapat dari mendengar, akan tetapi ilmu harus dicapai dengan riyadhah dan mujahadah. Buku-buku dan anjuran-anjuran dari para ulama hanyalah tambahan-tambahan yang harus dan patut kita dengarkan dengan takzim. Akan tetapi ilmu yang sejati haruslah dialami tahap demi tahap, dan itu langsung diberikan ke dalam hati para pendzikir, lalu memancar ke dalam otaknya, lalu akalnya menjadi-jadi itulah yang disebut “Ilmu laduni.”
Tatkala seorang pendzikir yang menyebut ‘dzikir nafi isbat atau ismudzat,’ hal pengisbatannya, hal pengkukuhannya sudah mulai bertambah bersih, maka (kecerdasan) akalnya menjadi-jadi. Penglihatannya pun bertambah tajam. (Ketajaman) rasanya akan langsung diberikan rasa haq dari Allah SWT. Itulah yang akan membulatkan tauhid, membersihkan tauhid dan akan membuka pintu hati yang dua, satu terbuka ke alam musyahadah, yang satu terbuka ke alam malakut, dan ketika dua-duanya terbuka, maka terlihatlah berbagai macam kebenaran-kebenaran.”
Dua hari lagi menjelang Wuquf di Arafah, beberapa sahabat jatuh sakit. Ada yang kepalanya terasa berputar-putar, seperti vertigo. Jika tidur terasa lebih sakit dan disertai rasa mual di perut, terkadang muntah-muntah. Mau tak mau ia harus dalam keadaan duduk bersandar. Semua sahabat mencoba membantu, ada yang memijat, memberikan obat-obatan dan mencarikan dokter kloter. Syaikh terlihat membacakan doa dan memijat-mijat kakinya. Kebetulan di sebelah kamar ada jamaah yang ahli dalam memijat, lalu diminta bantuannya. Semua khawatir, kalau-kalau sang sahabat ini, tidak bisa ikut kepadang Arafah. Malahan ada yang mempunyai ide, dibawa saja kerumah sakit, agar dapat Wukuf di dalam mobil ambulance. Macam-macam saran dan kekhawatiran bercampur-campur. Akan tetapi Allah Taalaa berkehendak lain. Detik-detik menjelang keberangkatan, sahabat itu merasa sehat. Maha Suci Engkau ya Allah, sekali lagi diperlihatkan bahwa akal tidaklah cukup untuk memahaminya, tidaklah berlaku hukum sebab akibat itu.
Allah SWT berfirman, “Ana jalisu mandzakaroni, Aku duduk berhimpitan dengan orang yang berdzikir kepadaKu.” Itulah karamah seorang Syaikh, menyerap cahaya dari “Sang Sumber Cahaya, Nuurun alaa nuurin,” turun temurun, terus bercahaya layaknya hirarki dalam suatu tatanan kerajaaan di alam semesta ini.
Berbekal rasa harap yang tinggi, rasa berserah yang besar, Sugih berangkat meninggalkan Makkah menuju Arafah. Hari itu adalah 8 Dzulhijah, besok akan tiba disuatu hari yang Allah Taalaa turun ke langit dunia hanya di tempat itu. Allah akan menilik hati orang-orang yang berihram, menjamu tamu-tamu-Nya, membersihkan segala dosa-dosanya. Segera teringatlah ia akan kata-kata Syaikhnya (semoga Allah merahmatinya), “Bermusyahadahlah engkau, laparkanlah perutmu, dahagakan hatimu, semoga engkau bertemu dengan-Nya, dengan tidak banyak bertanya mengapa dan bagaimana.”
Nabi bersabda, “Haji itu Arafah.”
Hampir jam sepuluh malam Sugih tiba di padang Arafah. Berangkatnya pun tidak dengan jamaah yang lain. Ia diminta untuk menaiki bus yang kekurangan penumpang. Syaikh berkata, “Sugih, pilihlah empat orang diantara sahabat-sahabatmu agar bus ini bisa segera berangkat.” Berat memang harus memilih empat diantara enam belas sahabat yang lain. Segera diikutinya kilatan hatinya, ia menunjuk empat sahabat untuk segera menaiki bus. Ia sampai terlebih dulu dibanding sahabat-sahabat yang lain. Perlahan-lahan ia memasuki tenda yang disediakan untuk rombongannya. Dicarinya tempat untuk Syaikhnya terlebih dahulu, namun ternyata ia harus berjauhan. Syaikh dipersilakan bersama dua orang sahabat, karena memang hanya tiga tempat yang ada. Dicarinya lagi tempat lain, ia tertunduk sedih, tiada lagi yang tersisa, kecuali hanya tertinggal beberapa saja. Para sahabat yang lain harus bermalam di tenda yang letaknya besebelahan.
Debu di Arafah bak kabut di Puncak, tampak jelas dari sorot lampu yang ada di sana. Diantara tenda yang satu dengan yang lain adalah tanah pasir berdebu, sehingga jamaah harus mengatur langkahnya. Sugih berdoa, “Yaa Allah janganlah Engkau jadikan amal-amalku bagai debu yang berterbangan dan hapuskanlah segala dosa-dosaku.” Sugih segera duduk bersila. Ini adalah posisi yang paling tumaninah di tenda Arafah. Sedikit saja meluruskan kaki, maka kepala jamaah yang sedang tidur akan tertendang. Sebaliknya bila merebahkan diri, justru akan tertendang kaki jamaah Haji lain. “Alhamdulillah, yaa Allah Engkau masih berkenan memberiku tempat di sini,” katanya. Dimulailah dengan Shalat beberapa rakaat, kemudian wirid-wirid dan melakukan pekerjaan-pekerjaan lainnya.
Tak lama kemudian, terdengar seseorang mengumandangkan adzan Dzuhur, pertanda waktu Wukuf segera tiba. Segera dipasangnya hati yang dahaga ini untuk selalu menghadap Allah Taalaa. Ia berjarak kira-kira sepuluh meter dari Syaikhnya. Dalam hatinya berkata, “Yaa Allah dekatkanlah sahabat-sahabatku dengan Guruku, dan dekatkanlah hati ini agar selalu terpaut dengannya.” Setelah selesai Shalat, didengarnya khotbah Arafah dengan takzim. Syaikh berbisik, “Coba diperiksa, sepertinya ada sahabat kita di luar tenda.” Maha Suci Engkau ya Allah, benar saja! Ternyata seorang sahabat tengah berpayung dan mencari-cari Guru kian kemari. Dipeluknya sahabat itu, dicarikannya tempat yang dekat dengan Guru, sedih menyaksikan seorang yang melepas rindunya, apalagi saat itu detik-detik menjelang “pertemuan” dengan Allah Taalaa. Kini lengkaplah sudah jumlah rombongan menjadi tujuh belas. Persis seperti banyaknya rakaat Shalat fardhu dalam sehari semalam.
Khotbah pun selesai, dilanjutkan dengan doa bersama. Sugih teringat saat ia berkhalwat. Ia bersikap tak ubahnya bagai berkhalwat. Hatinya tidak pernah terlepas dari-Nya, sambil memasang rasa harap akan pengampunan segala dosa-dosa. Dan sampailah kira-kira menjelang waktu Ashar. Para jamaah Haji yang lain telah menyelesaikan Wukuf. Mereka tampak bersalam-salaman, merasa bahwa pengampunan dosa-dosa telah didapat dari Tuhannya. Terdengar isak tangis di sana sini. Syaikh (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata, “Tangisan yang pertama untuk Allah Taalaa, tangisan selanjutnya merupakan riya, karena hatinya bercabang kepada orang disekelilingnya, berhati-hatilah.”
Ketika tiba-tiba terlihat ada sedikit tempat lowong di sebelah Syaikh, Sugih cepat-cepat pindah mendekat, lalu mengikuti Gurunya berdzikir dzahar “Laa illaaha illa Allah ... Laa illaaha illa Allah ... Laa illaaha illa Allah,” dilanjutkannya dengan dzikir latif, dzikir yang tidak berbunyi, ”Allah ... Allah... Allah,” sampai mendekati waktu Maghrib. Terdengar sayup-sayup Syaikhnya berdoa, ia pun mengaminkannya. Setelah selesai diciumnya tangan Syaikhnya. Tiada kata-kata yang mampu terucap, tiada rasa yang pernah hinggap ke dalam dada seperti itu. Tiada air mata sehangat air mata padang Arafah.
”Yaa Allah, atas izin-Mu Engkau telah memperjalankan kehidupanku sampai di sini, di padang Arafah bersama dengan Guru dan para sahabat tercintaku, ampunilah dosa-dosa kami semua, yaa Allah, angkatlah derajat Guruku setinggi-tingginya, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar