Sabtu, 07 November 2009

SHAFA

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan ummat-ummat (juga) seperti kamu. Tiadalah kami alpakan sesuatu pun di dalam AlKitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpun. (QS Al Anaam: 38)

Tepatnya hari Rabu, Sugih dan kedua sahabatnya pergi ke air terjun di gunung Gede, desa Cimacan Jawa Barat. Banyak jalan menuju kepuncak gunung ini, bisa dari Cianjur, Sukabumi atau taman Cibodas. Segera teringat olehnya pelajaran yang diterima dari Gurunya. Berdiam dulu sejenak selama dua puluh menit, menghadirkan rasa bahwa “manusia adalah sama haknya dengan makhluk yang lain, seperti burung-burung, jangkrik, nyamuk, semut, tumbuh-tumbuhan dan gunung-gunung,” kemudian barulah berjalan perlahan-lahan sambil berdzikir “Allah…Allah…Allah,” itulah Dzikir Anasir.

Sugih menerima dzikir tadi dari Gurunya pada saat berjalan di kebun teh Gunung Mas, Bogor. Syaikh Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Manusia terjadi dari empat unsur, api, angin, air dan bumi. Bilamana seseorang aktif mengerjakan dzikir anasir ini, maka dia akan selaras dengan alam semesta.” Apa-apa yang semula tidak terlihat menjadi terlihat, yang tadinya tidak terdengar menjadi terdengar, semuanya menjadi terjelaskan. Allah SWT berfirman, “Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat) dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya’. (QS Al Anbiyaa: 79)

Tatkala masih remaja, ia naik gunung untuk gagah-gagahan, memenuhi hawa nafsu, menyenangkan teman-teman, membuang kejenuhan atau sekadar untuk bergembira ria. Namun sekarang Allah Taalaa menganugerahinya hidayah. Dia pergi kegunung untuk berdzikir anasir, mengagumi-Nya, bercengkerama dengan ciptaan-Nya, membersihkan jiwanya. Terus menerus dia berdoa,“Yaa Allah ampunilah segala kesalahan-kesalahanku diwaktu dahulu,” sambil berdzikir Allah ...Allah ...Allah.”

Pernah Sugih tersasar di gunung ini. Sudah berjalan lebih dari enam jam, belum juga mencapai puncaknya, puncak Surya Kencana. Terus saja berputar-putar di sekitar kawah, itulah akibat dari salah memilih pemandu. Salah mempercayai seseorang yang mengaku ahli di bidang ini. Seorang ahli yang ternyata hanya mengerti seluk beluk gunung Gede dari membaca buku-buku. Dilain waktu dicobanya sekali lagi, kali ini Sugih berjalan atas bimbingan seseorang yang piawai, seseorang yang memang ditugasi untuk mendidik, membimbing seorang pemula untuk menggapai cita-citanya, mencapai puncak tertinggi.

Pengalaman mendaki gunungnya, ternyata ada kesamaan dengan bertarekat. Syaikh Achmad Syaechudin (semoga Allah mensucikan jiwanya) berkata, “Seseorang yang bertarekat tanpa pembimbing seorang Syaikh, maka pembimbingnya adalah syaithan.”

Dengan indahnya seorang penyairpun pernah melukiskan:

Barang siapa berjalan tanpa pemandu
Memerlukan dua ratus tahun untuk perjalanan dua hari

Setelah berjalan lebih dari satu jam, sampailah Sugih di tempat yang dituju, air terjun. Ada tiga air terjun di sana, semuanya indah, konon sebelumnya merupakan jalannya lahar ketika gunung Gede dan gunung Pangrango meletus. Orang menyebutnya air terjun Cibeureum, barangkali karena bebatuan di sana berwarna agak kemerah-merahan. Tak dapat menahan kegembiraanya, dengan segera Sugih mengajak sahabatnya berdzikir; dzikir dzahar, dzikir jali, atau dzikir dharab, dzikir yang dibunyikan, yang dipalukan ke dalam hati sanubari, dzikir Tarekat Qadiriyah ataupun tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Disalah satu sudut belahan bumi ini, terdengar gemuruh air terjun berjatuhan, dan para penghuninya pun berdzikir. Burung-burung, semut, capung, ulat, nyamuk, pepohonan, gunung-gunung, semua turut berdzikir menyebut kalimat yang dapat menggoncangkan Arsy Allah. Inilah kalimat yang lebih berat dibanding amal apa pun, kalimat penghancur dosa-dosa, kalimat tauhid, kalimat yang mampu memadamkan panasnya api neraka, Laa illaaha illa Allah …Laa illaaha illa Allah …Laa illaaha illa Allah seribu kali banyaknya. Setelah itu masing-masing berdiam. Tafakur. Merenung. Mengharapkan ”natija” dzikir…



Sugih masih duduk bersila. Ia teringat kejadian di bukit Shafa tatkala sang Guru Syaikh Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) mengijazahkan ”mutiara-mutiara ilmu” tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Inilah anugerah yang terbesar selama hidupnya yang dia terima dari Allah Azza wa Jalla, kemudian sang Guru berkata, ”Mulai hari ini, tugasmu adalah mengajak ummat, seperti yang dilakukan oleh Rasullulah. Di sinilah, di bukit inilah untuk pertama kalinya Rasulullah secara terang-terangan memanggil ummat. Kerjakanlah itu sebaik-baiknya.”. Kemudian beliau menundukkan kepalanya dan mengangkat tangannya untuk berdoa. Sugih tertunduk, perasaannya bercampur baur. Mulia benar tugas yang dibebankan kepundaknya. Tanpa disadarinya airmatanya menetes, pandangannya menatap kekaki Gurunya seraya berdoa, “Yaa Allah inilah tanda kecintaan seorang Syaikh kepada muridnya, aku tidak mampu membalasnya, yaa Allah, angkatlah derajatnya, sucikanlah jiwanya dan ampunilah segala kesalahannya yaa Allah, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin’.

Jalan lurus, sudah dibentangkan dihadapan Sugih. Inilah kiranya makna ayat ke enam dari suratul Fatihah Ihdinaash shiraathal mustaqiim, Tunjukilah kami jalan yang lurus. Atau mungkin inilah buah dari riyadhah dan mujahadahnya Sering Sugih mendengar Gurunya berkata, “Bermujahadahlah, maka Allah Taalaa akan membayarnya kontan.”

Bukit Shafa, tempat para jamaah Haji memulai Sai, tujuh kali mondar mandir dan berlari-lari kecil antara bukit Shafa ke bukit Marwah. Syaikh (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Shafa artinya ‘kesucian’, dan Marwah berarti ‘kebajikan.’ Jalan dan lari-lari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwah tidaklah dibenarkan tanpa memasang rasa ’harap,’ janganlah bertumpu pada hitungannya, akan tetapi rasa atas harapan-harapan memperoleh kesucian dan kebajikan. Di dalamnya ada muhasabah, bertanya-tanyalah kepada diri sendiri, akankah bertambah kesucian-kesucian dan kebajikan-kebajikannya? Serahkan itu kepada Allah Taalaa, karena musyahadah ada digenggaman-Nya.”

Seperti halnya Siti Hajar RA, istri Nabiyullah Ibrahim AS, yang berlari-lari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwah. Terus berlari dan diulanginya beberapa kali, dengan membawa-bawa rasa harap yang tinggi kepada Allah Taalaa, untuk mendapatkan air bagi anaknya Ismail. “Semoga saja kesucian dan kebajikan bersarang ke dalam hati, kemudian mengejewantah di dalam perbuatan kita, dan semoga bersarang juga ke dalam hati seluruh jamaah Haji yang ada disini, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin’.



Setelah kesana kemari mencari sahabat yang “hilang,” ia kembali ke Bukit Shafa untuk bertemu dengan Syaikh. Dipanjatnya bukit itu dari sisi sebelah kiri. Bersamaan dengan itu Syaikh dan sahabat turun melalui sisi sebelah kanan. Akan tetapi dipuncak bukit masih terlihat seorang sahabat menunggu, kemudian sahabat itu bercerita, “Baru saja saya melihat pemandangan yang teramat indah, lihatlah orang tua yang yang sedang Shalat itu, tadi beliau menunggu. Seusai Shalat, Syaikh dan orang tua itu saling memberi salam, berpelukkan dan mengadakan pembicaraan, pembicaraan dengan bahasanya, lalu berjabat tangan dan Syaikh meletakkan tangan kanannya di dada orang itu, persisnya di Latifatul Qalbi, sambil dua-duanya mengucapkan shalawat Ibrahimiyah, berulang-ulang itu dilakukannya.”

Sugih mengarahkan pandangannya kepada orang tua itu, beliau memakai ihram dari kain kafan, warnanya sudah agak coklat, kurus dan berjenggot, sedang khusyu Shalat. Jika dilihat sepintas seperti orang dari negeri Irak. Dalam hatinya berkata, “Pastilah orang ini bukan orang biasa. Jarang sekali Syaikh berlaku seperti itu. Syaikh sering bercerita pertemuan antara para Sufi dengan Sulthanul Mistik di bukit Shafa.” Dari bawah bukit Shafa, Syaikh masih memandangi orang itu, kemudian beliau berlalu.

Syaikh (semoga Allah merahmatinya) sering berkata, “Senantiasalah dalam keadaan berwudhu, bersuci kapan pun dan di manapun, karena kesucian akan membawamu ke “Negeri Suci” dan bertemu dengan orang-orang suci.”

Di bukit Shafa, aku melihat namun tidak “menyaksikan”
Rumput-rumput yang kering mendadak menjadi hijau
menyambut kedatangannya …

Nabi Musa pun berguru kepadanya
Guruku bersahabat dengannya

Pejumpaan di bukit Shafa itu
Perjumpaan di jembatan Banu Syaibah itu
Bekalnya kecintaan
Jamuannya shalawat Ibrahimiyah

Rahasianya belum terungkapkan hingga kini …
Andai aku tahu…
Ku kan mengemis minum darinya
Ku kan petik barakah-barakahnya
Ku kan sujud bersamanya

Misterius … misterius … misterius
Kehidupan yang fana ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar