Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu.” Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rizki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. (QS Al Baqarah: 60)
Anggaplah tongkat Nabiyullah Musa AS itu kalimat Laa illaaha illa Allah dan batu adalah “hati yang membatu.” Ketika dihantamnya hati yang membatu itu dengan kalimat Laa illaaha illa Allah, maka memancarlah “dua belas mata air.”. Memancarlah kebaikan-kebaikan, memancarlah kecintaan, memancarlah kasih sayang dan karamlah penyakit-penyakit hati. Tak ubahnya tongkat Nabiyullah Musa yang menelan semua tongkat-tongkat sihir, begitulah sifat-sifat syaithaniyah yang habis ditelan oleh kalimat Laa illaaha illa Allah.
Syaikh Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Kalimat Laa illaaha illa Allah terdiri dari dua belas huruf hijaiyah. Dahulu manakala saya berhadap-hadapan dengan Syaikh, jaraknya tidak lebih dekat dari dua belas meter, dan saya tundukkan pandangan kearah kakinya. Terlalu banyak keutamaan-keutamaan kalimat thayibah ini. Nabi SAW bersabda, “Afdholudz dzikri Laa illaaha illa Allah, sebaik-baik berdzikir itu Laa illaaha illa Allah.”
Kebutuhan menyebut kalimat yang satu ini bak kebutuhan manusia akan air. Jika badaniyah kita membutuhkan air untuk minum, maka bathiniyah kita membutuhkan kalimat Laa illaaha illa Allah. Tubuh akan kering bilamana tidak meminum air, dan hati akan mati jika tidak menyebut Laa illaaha illa Allah.
Begitu tinggi keutamaan air dalam kehidupan diatas dunia ini, untuk bersucipun menggunakan air. Pernahkah kita mensyukuri keberadaan air di muka bumi ini ?.
Syaikh Acmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) juga pernah berkata, “Bangkai ikanlah yang halal untuk dimakan, karena ikan hidup di dalam air, dan air diciptakan dari Nur Muhammad SAW.”
Sugih menuju ke sumur Zamzam, diminumlah tiga mug banyaknya seraya berdoa, “Yaa Allah melalui perantaraan air suci-Mu ini, sampaikanlah fadhilahnya kepada ibu-ibu yang sedang hamil, mudahkanlah kelahirannya, dan karuniakanlah anak yang saleh ataupun salehah, anak yang memusuhi dunia, anak yang hanya berbakti dan patuh kepada-Mu, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin”.
Syaikh (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Jagalah hatimu agar melulu mengingat Allah Taalaa, jangalah menerawang.” Pada saat keletihan memuncak, sesungguhnya diri ini mudah sekali tertipu. Setelah Syaikh berkata seperti itu, barulah disadari bahwa, doa di sumur Zamzam itu merupakan kealpaan dan kelemahan. Ketika itu ia sedang berihram, akan tetapi hatinya bercabang menerawang kepada keluarga yang ditinggalkan. Ia masih belum mampu “bagai orang mati,” masih belum mampu mengisi seluruh nafas-nafas, detak-detak jantung dengan dzikrullah.
Syaikh (semoga Allah mensucikan jiwanya) berkata lagi, “Sakaratul maut, bagi orang awam, terasa bagai dalam keadaan keletihan yang teramat sangat, sehingga saat itu dimanfaatkan oleh syaithan, agar melupakan menyebut kalimat penghancur dosa-dosa Laa illaaha illa Allah. Akan tetapi bagi para ahli dzikir merupakan penyeberangan menuju ke kehidupan yang lain.”
Syayyidina Ali bin Abi Thablib (karamallahu wajhah) berkata, “Sakaratul maut itu dahsyat.”
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa diakhir kehidupannya (diakhir perkataannya) mengucapkan kalimat Laa illaaha illa Allah, Surgalah baginya.”
Kemudian dibasuh dadanya, diperbaharui wudhunya dan dibasailah seluruh anggota badannya, sambil melantukan doa-doa, “Yaa Allah, hancurkan seluruh dosa-dosa Guruku, dosa-dosaku, dosa-dosa orang tuaku dan keluargaku, dosa-dosa para sahabatku, dan dosa-dosa seluruh jamaah Haji yang berada disini, yaa Allah sucikanlah kami, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin.” Lalu Sugih Shalat sunnah dua rakaat di dekat sumur Zamzam. Setelah itu dia duduk di tangga yang berhadapan langsung dengan sumur, untuk menunggu sahabat-sahabat yang lain. Dipadangannya Kabah dengan takzim, dibidikkan hatinya tertuju hanya kepada Allah Taalaa.
Ajaib memang, daerah yang jarang sekali ada hujan, akan tetapi terdapat sumur yang airnya tidak pernah habis. Tidak ada air di dunia ini yang dapat menyamai kebeningannya, rasanya, kesuciannya, dan keutamaan-keutamaanya. Rasulullah bersabda, “Air zamzam itu tergantung niat peminumnya.” Ditemukan oleh Nabiyullah Ismail AS ketika beliau masih bayi, menghentak-hentakan kakinya, “Zam-zam,” maka memancarlah air Zamzam itu, perlambang kepasrahan dan kesabaran yang teramat tinggi, karena lahir dari kaki seorang Nabi yang menyerahkan jiwa dan raganya hanya untuk Allah Taalaa. “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS Ash Shaffaat: 102). Kedua orang suci inilah yang pertama kali meminumnya, yakni Nabiyullah Ismail AS, dan ibunya Saidah Siti Hajar RA. Merekalah yang terpilih, mereguk Nur Muhammad SAW, yang menjadikannya memiliki maqam kepasrahan dan kesabaran yang teramat tinggi. “Yaa Allah karuniailah juga kepasrahan dan kesabaran, bagi orang-orang yang pernah meminum air Zamzam-Mu ini, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin’.
Dari keturunan Nabiyullah Ismail AS inilah terlahir seorang Nabi pembawa kitab penutup kitab-kitab para Nabi terdahulu. Nabi penutup risalah para Nabi dan Rasul. Nabi agung yang dari jari-jarinya pernah memancar air suci, bulan terbelah dengan jari telunjuknya dan pohon kurma tunduk merunduk kepadanya. Nabi yang membawa manusia keluar dari kegelapan kepada cahaya. Dialah pemimpin manusia dan jin, dialah yang membuat penduduk langit pernah berhias kala menyambutnya, dialah sang Pangeran penunggang Buraq. Beliaulah seseorang yang namanya tidak pernah hilang dari dunia dan akhirat, yang bila disebut namanya akan menjadikan doa bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Dialah yang Allah Taalaa dan para malaikatnya bershalawat dan pintu diterimanya amal-amal manusia. Duhai Mustafa, pemilik syafaat di yaumil Qiyamah, sampaikan salamku kepada Kekasih tertinggimu.
Mohammad Iqbal, sang penyair besar dari India, pencetus kemerdekaan Pakistan, pengagum Baginda Rasulullah SAW, menuliskan sebuah syair, :
Sungguh, hati Muslim dipatri cinta Nabi
Dialah pangkal mulia
Sumber bangga kita di dunia
Dia tidur di atas tikar kasar
Sedang ummatnya menggungcang tahta kisra
Inilah pemimpin bermalam-malam terjaga
Sedang ummatnya tidur diranjang raja-raja
Di gua hira dia bermalam
Sehingga tegak bangsa, hukum dan negara
Kala Shalat, pelupuknya tergenang air mata
Di medan perang, pedangnya bersimbah darah
Dibukanya pintu dunia dengan kunci agama
Duhai, belum pernah insan melahirkan putra semacam dia
Duhai yang Kekasihnya memanggil dengan nama Yaasiin, Thoohaa, Haamiim, Muzammil, Mudatsstir, Nashir, Siraj, Munir, Khatam al-Anbiya, harus dengan apa kami menyebutmu? Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata, “Barang siapa memasang rasa takzim kepada Nabi Muhammad SAW, maka akan tergugurkan dosa-dosanya.”
Bila Cinta membara
Keluarga, sahabat ikut termuliakan
Allah SWT berfirman, “Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa, maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalah hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS Al Ahzab: 32) ….. sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya (QS, Al Ahzab: 33).
Istri Baginda Rasul pun menjadi tersucikan, karena senantiasa memasang kecintaan kepada sang suami. Berbakti dengan jiwa, raga dan harta bendanya. Khadijah RA, wanita mulia, dengan ketabahan yang luar biasa terus menemani Nabi dikala sedih, sulit dan berbahaya. Dialah wanita yang pertama masuk Islam, dan wanita yang melahirkan seorang putri yang gemerlap berkilauan cahaya , Fatimah az Zahra.
Fatimah az Zahra, tumbuh bertepatan dengan masa awal kenabian Rasulullah. Suatu masa dimana situasinya sangatlah kritis dan genting. Tindakan kaum Quraisy terhadap ayahanda tercintanya, amatlah keras dan kejam. Hari-hari masa kecil Fatimah az Zahra, adalah detik demi detik yang berlalu dengan kepedihan dan air mata. Tetapi justru situasi inilah yang menempa Fatimah menjadi wanita yang teguh.
Sungguh tidaklah mengherankan, jika kemudian kita mengenal Fatimah az Zahra sebagai sosok wanita mulia yang tersucikan. Selain dibesarkan di lingkungan kenabian, ia juga makan dan minum dari air susu ibunya sendiri, dari air seorang yang suci. Ia benar-benar terpukul manakala ditinggalkan sang ibu yang menyayanginya. Kejadian itu sungguh menyakitkan jiwanya yang lembut. Bunga-bunga harapannya menjadi layu, air matanya yang hangat bercucuran, ia mencari sang ibu disetiap sudut hatinya, “Ayah, dimanakah ibuku?,” tanyanya kepada Rasulullah. Malaikat Jibril pun turun dan berkata kepada Nabi, “‘Tuhanmu menyuruhmu untuk memberi salam kepada Fatimah, katakanlah kepadanya, sesungguhnya ibumu berada di sebuah rumah dari zamrud, di mana tidak ada rasa letih dan lelah di sana.”
Putri tercinta Rasulullah, Fatimah az Zahra, adalah penghulu para wanita. Dan cucu Rasulullah yang lahir dari rahim Fatimah az Zahra, Syayyidina Hasan RA dan Syayyidina Husein RA adalah penghulu para pemuda. Sungguh mereka mempunyai kemuliaan yang tinggi. Merekalah yang berada di dalam jubah Nabi Muhammad SAW. Benar, sungguh-sungguh beruntung, walaupun sudah tiada, akan tetapi cahayanya tetap memancar hingga kini dan sampai hari berbangkit nantinya.
Tinggalah kita yang masih hidup, marilah kita perbanyak ber-Fatihah kepadanya. Berharap agar kebarakahnya membias kepada kita. Tiada daya dan upaya tanpa pertolongan Allah Taalaa.
Cinta kepada Nabi tak bisa diucap
Bagai gunung yang harus didaki
Jalan berliku lagi berduri
Berbekal riyadhah dan mujahadah yang tinggi
Berada terus menerus ditelapak kaki Guru
Jadilah Cinta …jadilah pelayan … jadilah tiada!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar