Sabtu, 07 November 2009

TRADISI

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Syaikh Abu Yazid al Busthami RA pernah berdoa, “Yaa Allah aku ingin tidak punya keinginan yaa Allah.”

Pagi itu hawa kesedihan bertiup menyapu qalbu. Rasanya tidak ada satu pun yang enak untuk dibicarakan. Semuanya membisu, yang terdengar hanya degup jantung. Sesekali kekhawatiran singgah, akankah dia kembali? Empat puluh hari lamanya sang suami harus pergi menuju ke Baytullah. Pergi untuk meraih kesucian. Menjadi tamu Allah Taalaa.

Setelah Shalat sunnah safar dua rakaat, Sugih berpamitan kepada keluarganya, “Yaa Allah, Engkaulah sahabat dalam perjalananku, Engkaulah pengganti yang menjaga keluarga dan hartaku, aku titipkan segala sesuatunya kepadaMu, yaa Allah.” Entah perasaan apa yang sedang membanjiri kala itu. Dilangkahkan kaki untuk meninggalkan semuanya. Ditekannya rasa pilu itu, digantinya dengan rasa kewaspadaan yang tinggi, semangat meninggalkan seluruh perbuatan-perbuatan dosa di atas dunia ini.

Syaikh Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata: “Seseorang belum disebut beriman, belum disebut Islam, manakala dia belum berHaji, padahal hartanya berkecukupan. Kelak di yaumil Qiyamah dia akan bermusuhan dengan Allah Taalaa.”

Makkah menjadi “haram,” diharamkan bagi orang-orang yang tidak suci, diharamkan bagi orang-orang yang bukan seiman. Di sinilah tempat berdirinya masjid yang paling agung, Masjidil Haram, bukan karena Kabahnya, bukan karena masjidnya, akan tetapi karena “Maqam Ibrahim,” karena keadaan keimanan, karena tingkat ketahuidan Nabiyullah Ibrahim AS, sahabat Allah Taalaa, “Khalilullah.’

Ada dua Maqam Ibrahim dalam berHaji, yaitu maqam badaniyahnya yakni Makkah, dan maqam ruhaniyahnya yakni persahabatan (khullat). Usahakanlah sekemampuanmu untuk mengambil salah satunya. Pertama yaitu maqam badaniyahnya, dengan jalan menyingkirkan hawa nafsu, tidak dibenarkan bertengkar, berdebat, berbuat fasik, tidak bergaul suami istri diwaktu berHaji, menjaga seluruh panca indera dan gerak gerik hati agar selalu tertuju kepada Allah semata. Sementara maqam yang kedua adalah maqam bathiniyah, atau persahabatan (‘khullat’) dengan Allah Taalaa. Untuk mencapai musyahadah, seseorang haruslah secara total meninggalkan dunia dan pergaulan dengan mahkluk lain, biarkan hati tertuju hanya kepada Allah Taalaa. Berlilitkan kain ihram itu pertanda terlepas dari ikatan dunia.

Semoga Allah Taalaa mengaruniakan kemampuan untuk meraih maqam bathiniyah setingi-tingginya kepada kami semua, dan kepada seluruh jamaah Haji, amiin yaa Allah yaa Robbal alamiin.”



Perjalanan dari Madinah ke Makkah sangat meletihkan. Delapan jam lamanya bus membelah lautan pasir yang luas yang nyaris tanpa pepohonan. Diantara bukit-bukit batu yang menghiasi alam yang gersang dan panas, sesekali terlihat pengembala kambing. Teringat bagaimana Rasulullah SAW, besama sahabat guanya Abu Bakar Ashshiddiq RA melakukan hijrah, perjalanan dari Makkah ke Madinah dengan hanya menunggang unta. Syaikh Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata, “Tasawuf adalah hijrah dari kehidupan biasa menuju kehidupan kesucian.” Tasawuf adalah perjalanan yang tak beda dengan sesulit menempuh perjalanan di Gurun pasir antara Madinah ke Makkah. Perjalanan perang yang tiada akhir melawan hawa nafsu sepanjang umur kehidupan. Tiada yang mampu meriwayatkan bagaimana perjalanan dari gua menuju ke Madinah yang penuh dengan misteri dan mistik. Diyakini oleh para masyaikh di gua itulah Rasulullah menurunkan ilmu “Dzikir Latif” kepada sahabat guanya Abu Bakar Ashshiddiq RA.

Tibalah di Bir Ali, suatu tempat yang dahulu dikenal dengan nama Dzul Hulaifah. Setelah berpakaian ihram dan Shalat sunnah dua rakaat, barulah berniat, “Labbaika Allahuma Hajjan.” Perjalanan diteruskan dengan membaca talbiyah terus menerus, “Labbaika Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik, innal hamda wannimatan laka wal mulk laa syarika laka.” Hati mulai gentar, manakala menginjak daerah suci dan inginlah memperoleh kesucian. Perjalanan dipenuhi dengan rasa takut dan harap.



Di maktab, tiba-tiba terdengar suara gaduh, “Lantai ini untuk ibu-ibu!,”…“Usir saja mereka!,” …”Dobrak pintunya!” Itulah sebuah suara. Suara yang mengotori alam semesta. Sebuah suara berbusanakan amarah yang biasnya langsung mencabik-cabik jiwa, justru seketika baru saja rombongan tiba di kota suci Makkah al Mukaramah. Seperti biasanya Syaikh hanya terdiam dan sedikit tersenyum, lalu beliau berkata, “Biarkan saja, nanti juga berlalu, istirahat saja yang cukup, setelah itu, marilah kita ke Masjidil Haram untuk melaksanakan Thawaf Qudum dan Sai Haji, semoga Allah Taalaa memberikan kegagahan kepada kita semua.”

Thawaf Sai usai sudah. Lebih dari lima belas menit Sugih berputar-putar di Pasar Seng, pasar yang cukup dikenal bagi jamaah Haji Indonesia, letaknya berdampingan dengan Masjidil Haram. Dicarinya terus menerus kerudung putih yang indah, ia ditemani oleh seorang sahabat tercintanya. Ia sungguh khawatir mengecewakan Syaikhnya. Terus saja terngiang kata-kata sang Syaikh, “Carilah kerudung putih, kalau ada umur, aku bermaksud mengkhatamkan kalian berdua di sini, di kota suci, di kota haram, di tanah kelahiran Rasulullah SAW.”

Syaikh (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata, “Tidaklah dibenarkan seseorang bertarekat tanpa berpegang kepada seorang Mursyid. Seorang Syaikh yang sudah khirqah di dalam tarekatnya, tarekat apa saja asal tarekat itu mutabarah, tarekat itu sah hukumnya dan silsilahnya jelas. Tarekat itu Syaikhnya sambung menyambung sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Barang siapa bertarekat dan tidak berGuru kepada seorang Syaikh, atau ada seorang Syaikh palsu, dia mengaku seorang Syaikh, maka Syaikh palsu itu akan dihukum sama dengan seratus kalinya orang munafik. Nauzuubillahi mindzalik. Mengapa seperti itu? Seorang Syaikh agung mengatakan bahwa, seseorang yang mengaku dirinya adalah Syaikh, padahal dia bukan, lalu dia mengajarkan kepada orang banyak, dan banyak pengikutnya, Syaikh palsu itu telah memutuskan tali silsilah, tangga-tangga emas kepada Syaikh yang lain. Dia memutuskan murid-muridnya itu dari tali barakah, tali wasilah, seperti disebut di dalam Al Quran Surat Al Maidah: 35, ’Wabtagu ilaihil wasilah,’ berpegang teguhlah kepada tali agama atau wasilah. Dia membuat wasilah itu tidak sampai kepada pengikutnya. Sesungguhnya tali agama itu turun temurun sampai kepada Rasullullaah SAW, maka Syaikh yang palsu itu dihukum sama dengan seratus kalinya orang munafik.”

Inilah tradisi tasawuf yang dipegang teguh sejak zaman Rasulullah hingga saat kini. Sebuah tradidi yang tak terputus dipegang teguh oleh seorang Syaikh; turun temurun keindahan akhlaknya, kecintaannya memancar, adabnya tiada berbanding, pandangan matanya menyejukan hati, kasih sayangnya membias kepada murid-muridnya. Itulah cermin seorang pembimbing, seorang Guru, seorang Syaikh yang tangguh dari tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dibimbingnya murid-muridnya tahap demi tahap, diikatkannya tali agama ke dalam qalbunya, dituntunnya sahabat-sahabatnya untuk meraih “mutiara” di dalam samudera. Semoga hujan rahmat turun kepadanya, semoga ditinggikan derajatnya, semoga mencapai Maqamam Mahmudah, semoga barakah-barakahnya berjatuhan kepada kita semua, amiin yaa Allah yaa Rabbal Alamiin.



Terdengar adzan maghrib, Syaikh memimpin Shalat berjamaah. Shalat dilakukan di maktab (tempat penginapan), letaknya tepat di depan Masjidil Jin, ‘dalatul Jin’ (perkampungan Jin), di daerah Sib Amir, sekitar dua puluh menit berjalan kaki dari Masjidil Haram. Syaikh memilih Shalat di maktab. Beliau selalu membaca suratul Quraisy (suku Quraisy) di rakaat pertama. Terdengar agak dikeraskan suaranya bila sampai di ayat Fal ya’buduu Robbahaadzalbait, (maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik Kabah). Selesai Shalat maghrib beliau memimpin dzikir dan dilanjutkan dengan doa.

Sugih bertanya ke dalam hatinya, “rahasia apa dibalik ini semua?” Syaikh lebih sering mengajak Shalat berjamaah di maktab daripada di Masjidil Haram, sementara semua tahu keutamaan Shalat di sana. Akan tetapi dia teramat yakin bahwa Syaikhnya akan membawanya ke tempat tertinggi, ke tempat yang tidak bertempat, menjelajah ruang dan waktu, menyelam di alam-alam yang lain. Dilupakannya pertanyaan itu. Seperti biasa, dia berjalan mencari-cari makanan yang cocok untuk makan malam, makanan kesukaan Syaikhnya, kesukaan para sahabatnya. Ibu-ibu pun tak kalah berbaktinya, dimasaknya acar-acaran, sayur sup, ikan asin, semuanya semata-mata hanya untuk sebuah kecintaan.

Pada saat makan, sering terdengar pembicaraan masalah dunia. Syaikh terlihat sedih, walaupun beliau mencoba menutupinya. Dengan pandangan yang tajam, Syaikh seolah memberi tahu, “Jangan banyak bicara, ini negeri suci, anggaplah kalian sedang berkhalwat.” Beliau tetap tersenyum, senyum yang memberikan beribu-ribu arti. Suatu ketika Sugih sedang duduk bersila sendirian di maktab, sang Syaikh tiba-tiba datang dan membisikkan, ”Barang siapa senang membicarakan masalah dunia, niscaya itulah salah satu ciri-ciri dia hubbud (cinta) dunia dan jika orang hubbud dunia, dia itu bakhil (kikir).” Kemudain Syaikh memberi salam dan berlalu. Sugih termenung. Kemudian dia berkata, “Astaghfirullah ternyata kita ini telanjang dihadapan Syaikh, tiada selembar tirai pun yang menutupinya, yaa Allah janganlah engkau permalukan aku dihadapan Syaikhku.”

Suatu hari, hati Sugih meronta-ronta. Betapa inginnya ia pergi ke Masjidil Haram. Betapa nyamannya jika berkesempatan untuk memperbanyak Shalat, membaca Al Quran, melakukan Thawaf atau berdzikir di sana Akan tetapi bagaimana mungkin ia meninggalkan Syaikhnya di maktab. Suasana seperti ini betul-betul membuatnya tidak nyaman. Ia terus mencoba untuk tetap mempertahankan adab. Dihadapan Syaikhnya, ia harus rela dibolak-balikkan bagai mayat yang dimandikan. Ia teringat Syaikh (semoga Allah merahmatinya) sering berkata, “Mari kita jaga kondisi, janganlah sering berjalan disiang hari, hindari panas sinar matahari, karena kata Nabi, akan dapat membangkitkan penyakit lama.”

Ia jatuh duduk termenung. Diambilnya Al Quran. Dibacanya surat Al Ahzab, lalu ia merebahkan dirinya sambil terus berdzikir. Tiba-tiba terlintas dipikirannya doa Syaikh Abu Yazid al Busthami, “Yaa Allah aku ingin tidak punya keinginan yaa Allah.” Oh inilah kiranya yang dimaksud Syaikhku. Gugurkan dulu keinginan-keinginan, barulah beribadah dengan membawa rasa kerinduan kepada Allah Taalaa. Dijaganya hati murid-muridnya dari rasa riya, ujub, merasa lebih suci dari yang lain, “Lihatlah aku berihram terus, aku mengambil Haji ifrad, sedangkan kalian Haji tamattu (bersenang-senang).” Syaikh (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata, “Keinginan-keinginan walaupun baik itu adalah termasuk hawa nafsu juga, sedangkan hawa nafsu merupakan hijab antara hamba dengan Allah Taalaa, bagaimana ibadahmu bisa sampai kepadaNya, sedangkan engkau membawa-bawa hawa nafsu.”

Seketika terasa bahwa karamah seorang Syaikh, memancar ke dalam hati Sugih. Apa yang buram menjadi jelas, yang gelap menjadi terang, yang tertutup menjadi terbuka. Mulailah Sugih mengerti mengapa Syaikh lebih sering di maktab, selalu membaca surat Quraisy, diingatkannya murid-muridnya untuk menyembah Tuhan Pemilik Kabah, disuruhnya murid-muridnya untuk mengesakan Allah Taalaa seesa-esanya. Janganlah menyembah ciptaan-Nya, janganlah hanyut oleh keadaan makhluk, janganlah takjub dengan yang lainnya, janganlah merindukan selain-Nya, tiada Kabah, tiada Shafa, tiada Marwah, tiada sumur Zamzam, tiada yang lain, yang ada hanyalah Tuhan Pemilik Kabah, hanya Allah semata, Laa illaaha illa Allah.

Inilah sepenggalan kecil tradisi tasawuf. Sebuah tradisi yang bukan memakai jubah, bukanlah berjenggot panjang ataupun berkumis tebal, bukan banyak berbicara, bukan banyak pengikutnya, akan tetapi sebuah tradisi dengan lapar, terjaga dimalam hari, dengan tindakan, dengan ilmu, dengan perilaku yang teramat baik, dengan kesabaran yang tinggi, dan dengan menjaga adab. Adab kepada Allah Taalaa, adab kepada Guru dan adab kepada sahabat serta adab kepada diri sendiri.

Itulah dia, manusia yang lebih mengetahui jalan jalan di Langit daripada jalan jalan di Bumi, semoga Allah memurnikan jiwanya, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar