Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Allah pemberi cahaya (kepada) langit dan bumi, perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak disebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An Nur: 35)
Sugih mencoba memberikan saran, apa daya lehernya terasa terjerat. Keberanian karam ketika Syaikhnya mengajak menunggu di suatu tempat yang jauh dari tempat yang dituju. Saat itu seluruh pintu Masjid Nabawi, Masjid Nabi, masih tertutup. Tidak ada orang lain di depan pintu itu, terkecuali rombongan Sugih. Terdengar Fulan berkata kepada sahabat yang lain, “Mana mungkin kita mendapatkan tempat di Raudhah, orang-orang tidak menunggu di sini.” Terlihat memang para jamaah Haji sudah mengantri di depan pintu yang lain, pintu yang terdekat, khususnya di pintu utama Jamaah sudah berdesak-desak. Syaikh hanya terdiam saja.
Sepuluh menit berlalu. Belum ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Saat itu jam setengah empat pagi, udara sangat dingin, perut makin terasa lapar, badan terasa menggigil. Maklum hari pertama di Madinah, kota yang bercahaya, kota yang penuh dengan darah dan airmata para syuhada. Syaikh (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Tidaklah dibenarkan memasuki kota Madinah dengan hati yang biasa-biasa saja, di kota yang istimewa ini, di kota yang membesarkan Islam ini, janganlah pernah lepas dari shalawat untuk Nabi.” Beberapa menit kemudian terdengar suara gaduh agak keras, pertanda dibukanya pintu mesjid Nabawi. Maha Suci Engkau ya Allah! Ternyata yang pertama kali dibuka adalah pintu di depan Sugih. Syaikh berkata, “Janganlah kalian memasuki mesjid Nabi dengan berlari, pasanglah rasa takzim.” Dilangkahkan kaki kanannya terlebih dahulu seraya dibawanya kerinduan yang penuh. Terciumlah harum-haruman khas yang meluluhkan jiwa. Bergemuruhlah suatu “rasa” yang memporakporandakan qalbu. Airmatanya bak hujan berjatuhan. Tibalah di suatu tempat yang ornamennya berbeda dengan yang lain. Corak karpetnya sangat indah, tiang-tiangnya pun sangat mengagumkan. Oh inilah Raudhah, inilah taman Surgawi, inilah tempat tinggal para ahli suffah, orang-orang yang meninggalkan dunia, orang-orang yang mencintai Nabinya. Inilah suatu tempat di mana doa-doa tidak tertolak.
Dari situlah raudhah-raudhah yang lain bermunculan, dari tempat suci itulah taman-taman Surgawi tumbuh menjadi subur, bertebaran di muka bumi. Seperti yang diceritakan oleh sahabat Jabir bin Abdullah RA, “Rasulullah mendatangi kami dan beliau bersabda, ‘Wahai ummat manusia, merumputlah di padang taman Surga!.’ Sahabat bertanya,“Apakah taman Surga itu?” Beliau menjawab,“Majelis orang-orang yang berdzikir.”
Masih di Raudhah, di sebelah kiri depan terlihat suatu ruangan yang khusus, dindingnya terbuat dari emas pilihan. Dari celah-celah motifnya terlihat kain berwarna hijau berbordir huruf arab. Hampir saja Sugih tidak mampu menahan gejolak jiwanya. Jantungnya berdetak keras, bibirnya bergerak-gerak dengan sendirinya, “Yaa Allah di situlah Nabi Muhammad SAW berbaring, manusia terbaik sepanjang masa, pemegang panji-panji para Nabi dan Rasul. Di situlah bersemayam pemimpin manusia dan jin. Di situlah sang sumber cahaya didampingi oleh sahabat tercintanya, Abu Bakar Ashshiddiq RA dan Umar bin Khatab RA dimakamkan.”
Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa menziarahi kuburku walau satu kali saja, maka dia berhak mendapatkan syafaat dariku.” Assalamualayka yaa Nabiyullah, assalamualayka yaa Rasulullah, assalamualayka yaa Habibbillah. Yaa Allah tampakkanlah bekas-bekas telapak kaki Nabi-Mu, agar kami dapat mengikuti langkah-langkahnya, agar kami tidak tersesat, agar kami memperoleh Nuurun alaa Nuurin. Ya Allah, inginlah rasanya hidup di zamannya, berdekatan dengan sumber cahaya, bertempur bersama sang pangeran nan gagah, berbakti dan berbakti menegakkan dan membela agama Allah, kemudian terbunuh sebagai syuhada, bersama Sulthanul Syuhada, Sayyidina Hamzah RA.
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata: “Raudhah menjadi tempat suci, tempat yang mustajabah, tempat orang yang memanjatkan doa-doa lantas Allah Taalaa mengabulkannya. Di masa Rasulullah SAW, tempat yang dahulunya disebut ‘serambi rumahku’, didiami oleh orang-orang yang mensucikan dirinya, memasang kecintaan kepada Nabinya dan meninggalkan dunia hanya untuk Allah Taalaa. Manakala panggilan jihad datang, mereka dengan gembira menjemputnya. Tidak sedikit orang-orang suci itu gugur di medan pertempuran. Itulah sebabnya Raudhah menjadi suci, tidak lain karena orang-orangnya. Silakan direnungkan, ingin berlomba-lomba mencari tempat di Raudhah atau ingin menjadi bagai orang-orang suci yang menjadikan tempat itu disebut ‘Raudhah’.”
Pernahkah teralami, tatkala tidur di malam hari tiba-tiba listrik padam? Apa yang nampak hanyalah kegelapan. Dipejamkan mata ataupun dibuka akan terlihat sama, hitam pekat. Dalam keadaan seperti ini, biasanya hati akan terguncang, jantung berdetak keras, doa-doa mulai dilantunkan. Takut jika telah tiba waktu kematian menjemput. Lalu dicarinya cahaya. Dengan tangan dikedepankan takut menabrak, jalan pun meraba-raba, persis seperti orang buta yang kehilangan tongkat. Sesungguhnya seperti itulah adanya kehidupan.
Dan ketika dengan rahmat Allah cahaya itu datang, perasaan pun menjadi lega, ”oh ternyata aku belum mati, aku tidak buta.” Namun, setelah itu, tak jarang ia lupa bersyukur kepada Allah Taalaa, lupa kalau itu merupakan rahmat dari-Nya. Akal seringkali mengaku-aku bahwa segala sesuatu itu atas usaha sendiri.
“Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehendaki.” Allah-lah sumber dan pencipta cahaya. Ada yang diciptakan-Nya sebagai “Cahaya” dan mampu mencahayai, itulah para Rasul, para Waliyullah dan para sholihin. Ada juga yang diciptakan sebagai Cahaya namun tidak mencahayai, merekalah orang-orang pilihan, bagai bintang dimalam hari. Berharaplah kita semua kepada Allah Taalaa, dengan pengharapan yang setinggi-tingginya, kiranya Cahaya itu walau seberkas ujungnya saja, dapat menyinari kita semua.
Bagai Cahaya lampu yang membuat benda-benda menjadi tampak, namun cahaya itu sendiri tidak tampak, sifat-sifatnya yang membuat sesuatu yang gelap menjadi terang! Janganlah terlena pada bentuk, akan tetapi hakikatnya…
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata, ”Seorang Syaikh mengataka bahwa, dzikrul Anbiya minal ibadah, dzikrul salihin kafarah, -mengingat Nabi itu termasuk ibadah, sedangkan mengingat orang-orang saleh menjadikan gugurnya dosa-dosa.” Mengapa bisa demikian? Itulah cahaya yang memancar dari para Nabi dan para salihin. Perbanyaklah berdekatan dengan seorang Syaikh, pasanglah rasa takzim dan kecintaan kepadanya, berbaktilah dengan sepenuh jiwa dan raga, dan bila engkau mampu, bersahabatlah. Yakinilah bahwa, benda yang mati, hitam dan gelap, akan berubah menjadi terang benderang bercahaya atas seizin Allah Taalaa. Itulah Nuurun alaa nuurin yang membias dari hati seorang Syaikh kepada orang-orang yang berdekatan dengannya.
Dengan sangat berhati-hati, seorang sahabat menceritakan kepada Syaikhnya, bagaimana cara ia mendapatkan nafkah untuk menghidupi anak dan istrinya. Kemudian terdengar pertanyaan, ”Halalkah pekerjaan itu, Syaikh ?” Syaikh (semoga Allah merahmatinya) menjawab, ”Tentu, halal Haji.” Kontan saja sahabat yang lain memberikan tanggapan, ”Menurut saya, haram Syaikh.” Lantas terjadilah berdebatan antara murid dengan Gurunya. Beberapa kali Guru mengatakan halal tanpa ditunggangi setitik emosi pun, akan tetapi sang murid tetap pada pendiriannya haram. Murid yang lain pun mencoba memberikan pendapat dan mulailah percakapan itu meninggi.
Ketika perdebatan itu berlangsung, Sugih sedang berada di dapur, mencuci piring dan peralatan lainnya. Hawa perdebatan itu terasa membias kemana-mana, menombak dada yang memang sudah terluka, jijik mendengarnya. Dengan perasaan sedih yang merasuk sanubari, mulailah airmata membahasi pipinya, sekali-kali diusap mukanya, takut-takut kalau ada sahabat yang melihatnya. Di dalam hatinya berkata, ”Yaa Allah ampunilah kami, hentikanlah pembicaraan itu, kasihanilah kami, dinginkanlah hati kami, karuniakanlah ilmu yang berguna.”
Allah SWT berfirman dalam kisah Nabiyullah Musa AS dan Nabiyullah Khidir AS, ”Musa berkata kepada Khidir, bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepada ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu.” (QS Al Kahfi: 66) Dan ketika terjadi pertentangan yang ketiga kalinya, terjadilah perpisahan, ”Inilah perpisahan antara aku dan antara kamu.” (QS Al Kahfi: 78)
Seorang Syaikh berkata, ”Awal segala perpisahan adalah pertentangan; orang-orang yang kontra dengan Syaikhnya, berarti ia tidak menetapi tharikatnya, hubungan antara keduanya telah terputus, walaupun keduanya terkumpul dalam satu bidang tanah. Dan barang siapa berGuru kepada seorang Syaikh, kemudian dalam hatinya ada konflik, maka janji pertalian Guru dan murid telah rusak, dan ia wajib bertobat.”
Allah SWT berfirman, ”Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.” (QS Al Baqarah: 17)
Naudzubillah mindzalik, semoga saja Allah Taalaa mengampuni kesalahan-kesalahan kita, mencabut kesombongan yang ada di dalam dada. Hendaklah kekuranganajaran, kejahatan-kejahatan yang ada di dalam diri ini, berupa pengakuan-pengakuan kehebatan, pengakuan-pengakuan bahwa kita orang yang berilmu, Allah berkenan mencabut sampai keakar-akarnya dan memberikan karunia ‘tobat’yang sebesar-besarnya, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin’.
Sembilan hari tinggal di Madinah, terasa bagai sekejap saja. Keseluruhan hari terasa dipenuhi wewangian misik dan kesturi. Penduduknya ramah dan ini mengingatkan akan penyambutan Nabi sepulangnya dari perang Badar. Para istri, ibu-ibu, anak-anak berbaris, sambil mendendangkan shalawat Badar, ”Shalatullah Salamullah ala Thaha Rasulillah, Shalatullah Salamullah ala Yasiin Habibbillah, Tawasalna bibismillah, wabil hadi Rasulillah, wakulli Mujahidin lillah bi Ahlil Badri yaa Allah.” Sedih nian mendengar shalawat ini. Itulah kecintaan yang memancar, kecintaan yang teramat sangat kepada Nabinya, kecintaan kepada Cahaya yang mencahayai alam semesta ini.
Sudah dua hari berturut-turut hujan membasahi kota yang bercahaya, Madinah al Munawarah. Bersama rombongan jamaahnya, Sugih berjalan menuju Masjid Nabi. Namun di dalam dada ini terasa tidak enak. Ada suatu rasa yang tidak mampu dilukiskan, karena di hari itu harus berpamitan. Berpamitan kepada sang ”Cahaya,” Cahaya nan gemilang. Udara saat itu benar-benar terasa dingin, bertiup bak jarum menusuk-nusuk wajah. Kaki yang terasa membeku bergegas mengayun langkah mencari-cari tempat untuk melaksanakan Shalat Subuh berjamaah. Akhirnya sampailah di lantai dua barisan terdepan dan angin terasa lebih kencang bertiup. Hujan pun belum reda, udara pun semakin dan semakin dingin. Akan tetapi segala perasaan itu tidaklah sebanding dengan rasa yang menusuk ke dalam dada ini.
Seusai Shalat, Syaikh (semoga Allah merahmatinya) berkata, ”Adakah yang teringat, bahwa surat ataupun ayat-ayat Al Quran yang baru saja kita dengar ini, pertama kalinya keluar dari mulut sang Nabi. Adakah rasa syukur itu, adakah shalawat terus dilantunkan, adakah rasa bahwa Cahaya itu yang menerangi alam semesta ini ?”
Duhai ”Nuurul wujud” - Cahaya yang maujud, berikanlah syafaat kepada kita semua, kepada keluarga kita, kepada sahabat-sahabat kita, kepada orang-orang yang pernah berbuat baik kepada kita, ataupun orang-orang yang pernah menyakiti hati kita, semoga Allah Taalaa berkenan mengabulkannya, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin. Assalammualayka yaa Nabiyullah, Asalammualayka yaa Rasulullah, Assalammualayka Yaa Habibbillah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar