Sabtu, 07 November 2009

DZIKIR

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Belumkah datang waktunya bagi orang orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras dan kebanyakan di antara mereka adalah orang orang yang fasik. (QS Al Hadid: 16)

Seperti biasanya Sugih datang lebih awal, berharap bisa bertanya kepada Syaikhnya. Bada Maghrib ia sudah menunggu di teras belakang, duduk ditemani beberapa orang sahabat. Tak lama kemudian tercium wewangian, pertanda Syaikh hadir. Ia memberikan salam dan mencium tangan Syaikh seraya berharap barakah-barakahnya. Pada awalnya Sugih tidaklah mengetahui bahwa, pengajian yang diikutinya pada setiap hari Jumat malam adalah pengajian tasawuf.

Pengajian ini berbeda. Tidak seperti pengajian-pengajian yang pernah ia ikuti, adab dinomorsatukan. Silsilahnya jelas dan sambung menyambung sampai kepada Rasulullah SAW. Pengajiannya bersifat monologis, murid-muridnya dibekali wiridan, agar gemar bekerja dan tidak banyak bicara. Syaikhuna berkata (semoga Allah merahmatinya), “Ilmu tidak akan bisa didapat dari banyak bicara, akan tetapi (melalui) riyadhah dan mujahadah yang keras.”

Mereka yang datang mengaji, merasakan sesuatu yang lain. Hati yang semula gundah, was-was, takut ataupun dihinggapi rasa tidak nyaman, saat itu juga hilanglah segala kesusahan itu. Bagai debu di atas kaca yang terbang tersapu angin. Uniknya, hampir semua murid mengaku dialah murid yang paling diperhatikan oleh Syaikhnya. Luar biasa memang, manusia yang di dadanya hanya ada rasa kasih sayang, memancarkan bias-bias itu dan langsung dirasa oleh orang yang berdekatan.

Syaikh Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya), dengan kesabaran yang teramat tinggi, dengan kasih sayang yang tiada berbatas, menuntun murid-muridnya, menggapai mutiara di kedalaman samudera nan luas. Dengan tiada harap apa pun, beliau curahkan segenap tenaga, harta dan waktu hanya untuk sebuah kecintaan. Syaikh adalah bunga yang terus menerus memancarkan wewangian. Cahaya yang membelah kegelapan.

Sugih bertanya tentang ayat di atas, “Syaikh apakah ayat Al Quran di atas ‘mewajibkan’ orang-orang yang beriman untuk berdzikir?” Beliau menjawab, “Alhamdullilah, syukur kalau engkau telah mengetahui jawabannya.”

Astaghfirullah, langsung saja Sugih teringat wejangan beliau beberapa waktu lalu, “Janganlah engkau bertanya sesuatu, yang engkau telah mengetahui jawabannya.” Itulah pertanyaan orang yang bodoh dan tak cukup beradab. Bertanya namun berharap jawaban seperti yang diingininya. Di dalam hatinya berkata, “Aku harus segera bertobat.” Dan berhari-hari rasa penyesalan itu terus terbawa-bawa.

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata, “Apabila engkau bertanya kepada seorang Syaikh, janganlah berharap akan jawabannya, kalau dijawab bersyukurlah dan bila tidak bersabarlah.”

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS Al Ahzab: 41). Dan bukankah Ummul Mukminin Aisyah RA berkata, “Rasulullah SAW berdzikir pada semua waktu.”

Rasulullah SAW berkata, “Inginkah kalian kuajari cara mudah untuk mendapatkan ilmu tanpa belajar?” Para sahabat menjawab, “Tentu ya Rasulullah,” dan Rasulullah menjawab, “Dzikrullah.” Kemudian beliau berkata, “Barang siapa yang Shalat Subuh kemudian duduk berdzikir kepada Allah sampai terbit matahari, kemudian Shalat lagi dua rakaat, adalah baginya pahala seperti pahala Haji dan Umrah.”

Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Islam adalah zhahiran wa bathinan. Ilmu syariat adalah ilmu zhahiran atau lahiriah, anjuran-anjuran untuk memperbanyak peribadatan ada di dalam ilmu syariat dan diatur di dalam kitab-kitab fiqih dan tauhid, yang hukum-hukum suci itu mutlak harus kita patuhi. Sementara itu ilmu bathin atau seluk beluk hati, yang disebut bathinan tadi adanya di dalam ilmu tasawuf.”

Lanjutnya, “Barang siapa yang merasa berkekurangan di dalam ilmu syariat mengajilah kepada banyak Guru, akan tetapi mengajilah ilmu Tasawuf kepada seorang Syaikh saja. Tidaklah dibenarkan mengaji tarekat kepada Syaikh yang lain, itulah salah satu adab bertarekat. Dan tidaklah dibenarkan seseorang yang bertarekat tidak bersyariat, itu disebut fasik, dan orang yang bersyariat tanpa bertarekat itu disebut zindik.”

Tasawufan rajulu, seorang yang berpindah dari kehidupan biasa ke dalam kehidupan kesucian, seseorang yang bertasawuf, seseorang yang bertarekat, hatinya tidak pernah lepas dari ingatannya kepada Allah SWT, oleh karena ikhsan, oleh karena melulu hatinya muraqabah. Haruslah selalu merasa dan ditanamkan di dalam hati bahwa dia selalu diawasi oleh Allah SWT, ‘dzahiran wa bathinan.’ Itulah orang yang sudah menjadi Islam sejati, setiap langkahnya, setiap kata-katanya, setiap gerak gerik hatinya, diperhatikan oleh Allah SWT. Dan orang yang bertarekat itu, inginlah selalu berlindung kepada Allah SWT, agar hatinya tidak menyeleweng kepada hal-hal yang haram.”

Sebuah hadits meriwayatkan bahwa Malaikat Jibril AS menyampaikan firman Allah SWT kepada Rasulullah SAW, “Aku telah memberikan kepada ummatmu sesuatu yang tidak pernah Kuberikan kepada ummat yang lain.” Nabi SAW kemudian bertanya, “Apakah pemberian itu?” Syayyidina Jibril AS menjawab, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS Al Baqarah: 152).”

Jika Jumat tiba
Tiada kata yang mulia selain Allah dan Rasul-Nya
Tiada yang lebih bahagia, bagi yang lidahnya terus menyebut-Nya

Kerinduan pun tiba
Inginlah merumput di taman Surga
Bertemu Guru dan sahabat-sahabat tercinta
Terbang membumbung tinggi menemui-Nya

Yaa Allah jadikanlah tiada hari selain Jumat
Biar kami tak pernah lalai dari mengingat
Mengingat Sang Kekasih, yang memberikan cinta hangat
Tanpa mata, aku memandang yang kulihat,
Menangis...menangis...dan menangis...

Tertulis dalam kitab Injil, “Hamba-Ku, ingatlah kepada-Ku ketika engkau sedang marah, maka Aku akan ingat kepadamu ketika Aku marah.”

Di dalam hadits qudsi Allah SWT berfirman, “Aku mengingat orang yang mengingat-Ku, menjadi teman duduk bagi orang yang bersyukur kepada-Ku, dan kekasih bagi orang yang mencintai-Ku. Barang siapa yang mengingat-Ku di dalam dirinya, Aku pun mengingatnya di dalam diri-Ku, barang siapa mengingat-Ku di tengah keramaian kaumnya, Aku pun mengingatnya di tengah keramaian para malaikat-Ku.”

Betapa bahagianya orang-orang yang mau berdzikir untuk mengingat-Nya, karena Dia juga ingat kepada orang itu. Seperti kekasih yang selalu bertaut-tautan. Jarak menjadi tiada arti, waktu tiada berlaku. Manusia tentulah akan terbatas ingatannya, akan tetapi Dia tidak akan pernah lupa. Mungkin saja di hari berbangkit nanti seseorang akan lupa kepada amal-amalnya, akan tetapi tidak halnya dengan Dia. Terlebih lagi amal berupa dzikir, amal yang teramat suci yaitu pengesaan Allah seesa-esanya.

Dari Abu Hurairah RA Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi mempunyai malaikat yang banyak mengadakan perjalanan utama, mencari majelis-majelis dzikir. Apabila mereka menjumpai majelis yang ada dzikir, maka mereka ikut duduk bersama. Sebagian mereka mengelilingi yang lain dengan sayap mereka, sehingga mereka memenuhi antara mereka dan langit dunia. Apabila mereka pergi maka mereka naik ke langit. Lalu Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar berfirman kepada mereka pada hal Dia lebih mengetahui tentang mereka, ‘Dari manakah kamu?’, mereka menjawab, ‘Kami datang dari sisi hamba-Mu di bumi, mereka me-Mahasucikan-Mu, me-Mahabesarkan-Mu, me-Mahaesakan-Mu, memuji-Mu dan mohon kepada-Mu.’ ‘Apakah yang mereka minta dari-Ku?’, mereka menjawab, ‘Mereka memohon kepada-Mu akan Surga-Mu’, ‘Apakah mereka melihat Surga-Ku?’, mereka menjawab, ‘Tidak, wahai Tuhan,’ ‘Bagaimanakah seandainya mereka melihat Surga-Ku?’, mereka menjawab, ‘Mereka mohon diselamatkan kepada-Mu,’ ‘Dari apa mereka mohon diselamatkan?’, mereka menjawab, ‘Dari neraka wahai Tuhan,’ ‘Apakah mereka melihat neraka-Ku?’, mereka menjawab, ‘Tidak,’ ‘Bagaimanakah seandainya mereka melihat neraka-Ku?’ mereka berkata, ‘Mereka memohon ampunan-Mu,’ ‘Aku telah memberi ampunan kepada mereka, Aku memberikan apa yang mereka minta, dan Aku selamatkan mereka dari apa yang mereka minta diselamatkan,’ mereka menjawab, ‘Wahai Tuhan, di antara mereka terdapat fulan, seseorang yang banyak kesalahan, ia hanya lewat, lalu duduk bersama mereka,’ ‘Aku mengampuni mereka, mereka adalah suatu kaum yang teman duduk mereka tidak celaka.”

Rasulullah SAW bersabda, “Alamat mencintai Allah ialah mencintai dzikrullah, sedang alamat kemarahan Allah, adalah enggan kepada dzikrullah.”

Allah SWT berfirman, “Bertanyalah kamu kepada ahli dzikir (baiat) jika kamu tidak mengetahuinya.” (QS An Nahl: 43)

Allah SWT berfirman, “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS Al Kahfi: 65)



Di Maktab, Syaikh terlihat tampak lelah. Kakinya sakit bila digerakkan, apalagi duduk bersila terlalu lama, entah apa penyebabnya. Semua menduga-duga, jangan-jangan karena pola makan yang terlalu banyak kambing atau lemak. Atau bisa jadi menu yang disajikan kurang seimbang. Segera saja bertaburanlah “barangkali-barangkali” di dalam hati ini. Sedih rasanya, melihat Guru dalam keadaan seperti itu. Tidak seperti biasanya, kali ini beliau sering membaca surat Adh Dhuhaa dan Alam Nasyrah. Dan semakin bertambahlah pilu hati ini, teringat tatkala Rasulullah SAW dalam kesedihan, menanti-nanti turunnya wahyu hingga selang beberapa waktu turunlah ayat ini yang menghibur hati dan membesarkan perjuangannya. Allah berfirman, “Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu (QS Adh Dhuhaa: 3),” kemudian “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan daripada bebanmu, yang memberatkan punggungmu?” (QS Alam Nasyrah: 1-3)

Seorang Syaikh pernah berkata, “Orang biasa terlihat gembira di mukanya akan tetapi hatinya bersedih, sedangkan orang salihin tampak sedih di wajahnya akan tetapi bergembira hatinya.”

Akankah masih harus memperhatikan bentuk?, bukan hakikatnya?
Melihat kuda?, bukan penungganya?
Melihat manusia?, bukan akhlaknya?
Mengapa bukan mata hati untuk melihat?
Mengapa mengagumi lukisan?, bukan pelukisnya?
Yaa Allah karuniakan ilmu yang berguna kepada kami.

Dengan menjadi pengikut saja, tidaklah mampu berlaku laiknya bayangan yang setia mengikuti gerak gerik realitasnya, bayangan yang tidak pernah bertanya mengapa dan bagaimana? Susah benar untuk taklid dan tunduk terhadap segala sesuatu perintah Syaikh, tiada daya dan upaya tanpa pertolongan Allah Taalaa.

Allah SWT berfirman, “Dia berkata, jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tetang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (QS Al Kahfi: 70)

Seorang sahabat terlihat dengan tulus memijat kaki Syaikh, sementara yang lain menyediakan minuman dan yang lain mencarikan makanan. Ibu-ibu pun memberikan obat-obatan, semua ingin berbakti, berbakti secara lahiriyah maupun bathiniyah. Seringkali doa-doa pun dilantunkan, agar Gurunya dikaruniai kesehatan. Semoga saja Allah Taalaa ridha dengan amal-amal yang tidak lebih besar daripada debu itu, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin.



Di dalam kamar, seorang sahabat sedang menceritakan kehidupan pribadi dan keanekaragaman “pakaiannya.” Oh ingin betul rasanya menutup kuping ini, ingin rasanya mengingatkan bahwa, badan masih dililit kain ihram. Satu dua hari masih mampu diacuhkannya, dibacanya Al Quran dengan perlahan-lahan, berharap agar masing-masing menilik hatinya untuk tidak melanjutkan pembicaraan. Akan tetapi bukannya padam api itu, malahan bertambah besar dan membakar apa saja yang didekatnya. “Itulah bias kegelapan,” dan akhirnya ia pun hanyut dalam pembicaraan itu. Mulailah keakuan ditampakkan, mulailah sang “nafs” mengajaknya ke jurang kesombongan, mulailah hati ini susah dikendalikan dan bahkan nasihat-nasihat meluncur bak seorang yang alim. Walaupun tahu ini suatu kemaksiatan, tiada kemampuan untuk memenggalnya. Dzikir-dzikir pun terlupakan dan yang ada hanya pamer jiwa rendah serta cerita-cerita kosong yang menghancurkan amal-amal. Yaa Allah ampunilah kesalahan-kesalahan kami, maafkanlah kekhilafan kami, dan sucikanlah kami, lindungilah kami dari fitnah-fitnah dunia, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin’.

Kalau tidak dalam bentuk percakapan, fitnah ini datang dalam bentuk lain yang cukup ampuh yakni shopping. Walaupun yang dibelinya itu Al Quran, jam yang bisa adzan atau tasbih dan pakaian-paikan untuk mengaji. Betapa sulit mengendalikan pandangan, pendengaran dan rasa. Kadang-kadang tawar menawar dibumbuhi tawa, bercanda dengan penjual dan mengeluarkan kata-kata yang kurang baik. Jika penjualnya wanita, terkadang menatap wajahnya, “Yaa Allah, lemah benar diri ini, berikanlah cahaya kegagahan kepada kami, betul-betul kami ini kalah dalam berperang, tiada daya dan upaya tanpa pertolongan-Mu Yaa Allah, ampunilah segala dosa-dosa kami.”

Syaikh terkadang ikut dalam rombongan, beliau sering mengingatkan dengan bahasa isyarat. Akan tetapi di luar sana, telinga ini menjadi tuli dan hati menjadi buta, tidak mampu membaca isyarat dari Gurunya. Baru jika tiba di maktab, Syaikh menyindir dengan bahasa guyonan, “Hatiku terasa menyesak, mendengar seseorang berkata suara adzan jam ini tidak bagus, bahlul.” Dan lucunya tidak ada yang mampu memetik hikmah itu. Malah hanyut dalam guyonan dan bahkan tertawa. Lantas keesokkan harinya tindakan-tindakan yang memalukan itu diulanginya lagi. Sungguh tidak pantas mengaku ahli dzikir atau mengaku bahwa “pekerjaan” dari Syaikhnya telah dikerjakan dengan istiqamah, sementara perilaku yang tercermin masih seperti koboi. Padahal pengejewantahan praktek dzikir, tampak pada akhlak, pada perilaku sehari-hari.

Sugih berkata, ”Ibarat menanam, pupuknya adalah dzikrullah, buahnya berupa ilmu.” Dan kemudian Syaikh menambahkan, “Buahnya bukan berupa ilmu saja, melainkan ilmu dan akhlak.”

Sugih berkata di dalam hatinya, “Alhamdulillah, sungguh terasa bahwa, aku termasuk dalam golongan orang-orang yang belajar berdzikir belum termasuk dalam golongan pendzikir. Orang-orang yang belajar mengaji, belum termasuk golongan murid apalagi salik. Akan tetapi, yaa Allah aku bersyukur Engkau kumpulkan dengan orang-orang yang berdzikir, Engkau perjalankan berhaji bersama-sama dengan Syaikh dan sahabat-sahabat tercinta. Semoga Engkau hapuskan segala kelemahan kami dan mengampuni segala dosa-dosa kami, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin’.

Itulah warna warni berhaji, sulit untuk tunduk hati untuk selalu berdzikir kepada Allah. Karena itu, selalulah berlindung kepada-Nya, dan banyak-banyaklah berdekatan dengan Syaikh, agar terbias kebaikan-kebaikan, kasih sayangnya, dan agar terjelaskan. Agar jangan seperti domba yang terpisah dari rombongannya, sehingga dengan mudah diterkam oleh srigala.

Semoga saja dari setumpuk jerami, masih ada sebutir padi, yang dihitung sebagai peribadatan, dan Allah ridha terhadap padi itu, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar