Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), (QS Al Qiyamah: 28)
Wada berarti perpisahan. Perpisahan terjadi karena ada perjumpaan dan awal dari perpisahan adalah pertentangan. Akan tetapi yang satu ini tidak ada pertentangan, justru meninggalkan banyak misteri kehidupan. Perpisahan yang tak meninggalkan kedukaan, akan tetapi justru membangkitkan kerinduan.
Ketika ia tengah melakukan Thawaf wada, Kabah pun seolah mengingatkan, “Ingatlah, inilah saatnya perpisahan, bukan perpisahan denganku, akan tetapi perpisahan dengan dunia.” Dan hati pun bertanya-tanya bagaimana berpisah dengan dunia, bukankah kita masih membutuhkannya? Syaikh Abdul Khaliq al-Ghujdawani (semoga Allah mensucikan jiwanya) menyusun delapan prinsip dalam bertarekat, salah satunya adalah khalwat dar ajuman, menyepi dalam keramaian. Tetaplah menjalani kehidupan seperti biasanya, akan tetapi janganlah hati ini terkait kepada selain-Nya, biarlah hati ini sendiri hanya dengan-Nya, walaupun sedang berada ditengah-tengah masyarakat. Itulah pesan Syaikh. Itulah pesan Kabah kepada Sugih.
Benar rukun Islam ada lima, ada perintah Shalat dan yang terakhir adalah pergi Haji. Akan tetapi mari kita perhatikan, ada perintah apa setelah menyelesaikan ibadah-ibadah yang luhur ini. Allah SWT berfirman, “Maka apabila engkau telah menyelesaikan Shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS An Nisa: 103). Pula firman-Nya, “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah Hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.” (QS Al Baqarah: 200).
Itu berarti masih ada tugas yang melekat setelah ibadah Shalat dan Haji ini selesai, yaitu dzikrullah. Karena hanya dengan senjata yang satu ini, manusia akan terhindar dari fitnah dunia. “Dunia bagai tulang belulang yang berada ditempat sampah,” demikian Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) pernah berkata.
Rasulullah SAW bersabda tentang dunia, “Waspadalah terhadap dunia, demi Allah yang jiwaku berada di genggaman-Nya, sesungguhnya ia lebih bahaya dari sihirnya Harut dan Marut.”
Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang pagi-pagi, dengan tujuan utamanya adalah dunia, Allah akan menceraiberaikan urusannya, memporakporandakan pekerjaannya dan menjadikan kefakirannya ada di depan matanya, serta tidak memberinya bagian dunia, kecuali yang telah ditetapkan kepadanya. Dan barang siapa yang pagi-pagi bertujuan akhirat, Allah akan menghimpun keinginan-keinginannya, memelihara pekerjaannya, menjadikan kekayaannya ada dalam kalbunya, dan dunia mendatanginya dalam keadaan patuh.”
Syayyidina Ali bin Abi Thalib (Karramallahu Wajhah) berkata, “Dunia itu bangkai, maka jika seseorang menginginkannya, hendaklah ia sabar bergaul dengan anjing-anjing.”
Sugih teringat sewaktu berpisah dengan ayahnya. Saat itu ia sedang berada di puncak dunia, mengenakan stelan jas Armani, di ruangan yang didisain khusus untuknya, di hutan beton berlantai tinggi. Pagi itu entah kenapa, hatinya gundah. Ingin segera pergi meninggalkan kantor. Dibarengi hujan deras diiringi petir yang menyambar, tiba-tiba telepon genggamnya berdering, terdengar suara tangis. Di ujung sana, sang adik berkata, “Bapak sudah tiada.” Bagai petir menghantam dadanya, “inna lillaahi wa inna illaihi roojiun.” Ia baru saja ditinggalkan sosok manusia yang penuh dengan penderitaan, hidupnya penuh dengan kesedihan, kawan-kawannya pun mengkhianati dan sanak saudara. menjauhinya. Sembilan tahun lamanya beliau mendekam di penjara dengan penyakit asma yang terus menggerogoti. Betapa perih rasanya saat itu. “Yaa Allah belum mampu aku membalas apa pun, sudah Engkau panggil dia, ampunilah segala dosanya, cahayailah kuburnya, mudahkanlah segala urusanya, dan kuatkanlah hati ibuku.”
Barulah terasa penyesalan, berpisah dengan seseorang yang memelihara sejak dalam perut ibunda. Seseorang yang terus melimpahkan kasih sayang, membiayai kehidupan dan mendidik dengan kedisiplinan yang keras. Akan tetapi manakala ia tumbuh dewasa, dilawanlah orang tuanya. Seolah-olah dengan memberi uang, terbalas sudah semua kebaikannya. Merasa bahwa istri, pangkat dan harta lebih berharga daripadanya. Runtuh semua sendi-sendi kehidupan. Panutannya berpulang, tiada pembimbing, tiada tempat berkeluh kesah. Sugih turun ke liang kubur, dibukanya kain kafan yang menutupi kepala ayahnya, dibuatnya bola-bola dari tanah, ditempelkannya ke wajah ayahnya, itulah terakhir kalinya “perjumpaan” dengan ayahnya.
Yaa Allah ampunilah segala kekurangajaranku kepadanya. Bila ada amal baikku persembahkanlah untuknya, berikanlah petunjuk untuk membalasnya, walaupun ia telah pergi, pergi ketempat tertinggi, pergi berjumpa dengan-Mu, semoga yaa Allah Engkau ridha kepadanya, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin.
Berpisah dari dunia berarti berpisah pula dengan amal terkecuali tiga hal. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang itu meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga macam yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang dapat diambil manfaatnya, atau anak saleh yang mau mendoakannya.” Dan dilain kesempatan beliau bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik kebajikan yaitu seseorang yang menyambung tali persahabatan keluarga kenalan baik ayahnya, setelah ayahnya meninggal dunia.”
Dan Rasulullah SAW bersabda, “Akan dicatat sebagai anak yang saleh, bilamana selesai Shalat Jumat seseorang menziarahi orangtuanya yang sudah wafat.”
Walaupun Rasulullah telah memberikan jalan agar amal seseorang yang telah wafat dapat terus tersambung, akan tetapi bagi keluarga yang ditinggalkan, terasa berat untuk menjalankannya. Pada umumnya yang dipikirkan adalah dirinya sendiri, terkecuali bagi orang-orang yang telah tercerahkan hatinya. Orang-orang yang menduduki maqam-maqam tertentu. Sungguh beruntunglah orang-orang yang ditunjuk oleh Allah Taalaa berada di dalam lingkaran orang-orang yang berdzikir, karena amal-amalnya dihadiahkan untuk kedua orang tuanya yang sudah tiada maupun yang masih ada. Syaikh (semoga Allah merahmatinya) sebelum memimpin doa berkata, “Berharaplah hanya kepada Allah Taalaa, saat inilah waktu yang paling baik, karena doa orang-orang yang berkumpul untuk berdzikir lebih dari 40 orang, sama dengan doanya seorang Waliyullah, marilah kita hadiahkan amal-amal dzikir ini untuk orang tua kita yang masih ada maupun yang sudah tiada, semoga Allah SWT mengampuni seluruh dosa-dosanya dan mengangkat derajatnya setinggi-tingginya, amiin.”
Hari demi hari dilalui, kali ini ada sesuatu yang hilang di dalam dadanya. Ia mencoba mencari seorang ustadz, belajar membaca Al Quran dan berteman dengan orang-orang di pesantren. Sejak saat itu mulailah kesedihan berganti, terisi dengan kata-kata hikmah. Dicobanya melakukan peribadatan, namun hatinya tetap saja gundah. Amarah tetap merajalela, kesombongannya pun tiada bergeser. Mulailah akalnya menerawang, apa gerangan yang salah, kok masih seperti ini? Dicobanya terus untuk bertahan di jalan ini. Namun hancurlah hatinya, tatkala pesantren itu menjadi anggota partai. Gundah hatinya semakin menjadi-jadi, jera rasanya mengikuti kegiatan-kegiatan seperti itu. Ujung-ujungnya sama, kedudukan dan harta.
Dalam kegelapan, setitik cahaya bersinar. Sahabat lamanya mengajak mengaji. Mengaji lagi? Hatinya berbisik seperti itu. Dan pada Jumat sore meluncurlah Sugih mengikuti sahabatnya menuju ke kota Bogor. Ia bertemu dengan orang-orang berjubah, yang membentuk suatu lingkaran, kebanyakan memakai cupluk hijau berbalut sorban putih. Hanya satu orang saja yang memakai cupluk berwarna biru dan berwarna merah. Di situlah Sugih dipertemukan dengan seorang Guru, seorang pembimbing, seorang Syaikh yang tangguh dari tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Seseorang yang kemudian memandunya dari kegelapan menuju cahaya. Seseorang yang mampu membelah dada, mengganti kebencian dengan kecintaan. Seseorang yang berbekal pedang kesabaran, berkendara kasih sayang dan mendahulukan kebenaran. “Yaa Allah curahkan Rahmat-Mu kepada Guruku, hapuskanlah segala kesalahannya, tinggikan derajatnya dan sucikanlah jiwanya, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin.”
Di situlah diterima ilmu-ilmu agama yang tiada tara indahnya. Teringat bagaimana Syaikh (semoga Allah mensucikan jiwanya) mengajarkan kaifiat-kaifiat dzikir. Beliau berkata, “Para sahabat yang amat saya cintai, insyaAllah, akan saya ajarkan kaifiat dzikir, agar cepat terasa, dan agar terbiasa dikerjakan. Tatkala menyebutkan kalimat Laa illaaha illa Allah disebut dzikir dzahar atau dzikir ‘Nafi Isbat.’ ‘Laa ilaaha’ artinya ‘dinafikan’ (ditiadakan) yang lain, ‘illa Allah’ artinya ‘diisbatkan’ (dikukuhkan) ke dalam Qalbu, hanya Allah saja yang wajib disembah. Pada saat itulah Allah teresakan seesa-esanya, lupakan dulu anak, istri, harta benda yang kita cintai, perniagaan yang kita bangga-banggakan, termasuk diri kita, atau apa saja yang menjadikan kemusyrikan, yang mengotori Qalbu.”
‘Laa ilaaha,’ berarti kita tidak ber-ilaah-kan pada yang lain, tidak ber-ilaah-kan harta, tidak ber-ilaahkan kebanggaan-kebanggaan dan kesombongan. Singkirkan semuanya saat menyebutkannya. ‘illa Allah,’ berarti kita sedang membulatkan, mengukuhkan, hanya Allah saja yang wajib kita sembah, tiada yang lain, tiada harta benda, tiada anak istri, yang lainnya yang bersangkut dengan duniawi. Saat itulah kemusyrikan gugur, saat itulah dosa-dosa besar, sebesar apa pun hancur semuanya, saat itulah Nuurullah hinggap ke dalam hati, saat itulah kecerdasan bertambah, saat itulah apa-apa yang tidak kita ketahui disibakkan oleh Allah SWT dan akan menjadi jelas. Saat itulah kesombongan-kesombongan yang mempertuhankan otaknya, yang mempertuhankan akalnya, gugur!
Saat menyebut, ‘Laa’ yang berarti ‘tidak,’ bayangkan berupa cahaya berwarna keemasan, ditarik dari bawah pusar tiga jari, karena di situlah sumber enerji, enam harakat banyaknya sampai ke ubun-ubun. Kemudian menyebut ‘illaaha,’ diturunkan ke pundak sebelah kanan dua harakat banyaknya. Lalu menyebut ‘illa Allah,’ diturunkan dari pundak sebelah kanan ke Latifatul Qalbi, tempatnya dua jari dibawah susu kiri, agak kekanan sedikit, dua harakat lamanya. Di situlah bercampur, tempat kerajaan syaithan, tempat keburukan, tempat kebahagiaan, tempat kebodohan, kesombongan indriawi, takabur dan segala macam penyakit hati. Itulah kaifiat dzikir dzahar, dzikir yang disuarakan, dzikir nafi isbat dari tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Saat itulah terhapus segala macam rasa gundah yang ada di dalam hati, kesusahan-kesusahan, keluhan-keluhan, sirna di saat itu, dengan mengatakan yang sebenar-benarnya Laa illaaha illa Allah.
Lalu ketika dzikirnya bertambah cepat, ‘Laa illaaha illa Allah...Laa illaaha illa Allah...Laa illaaha illa Allah,’ maka lupakan yang lain kalau ingin membersihkan tauhid, kalau ingin mengerjakan amal saleh, dan kalau ingin menjauhi kemusyrikan. Untuk mencapai Liqa Allah, lupakan semua yang lain. Yaa Allah aku sedang terpisah dengan yang lain, aku sedang berhadapan dengan Engkau saja.
Berlindunglah kepada Allah sebelum berdzikir, sebelum Shalat, karena Shalat itu dzikir. Allah berfirman, ‘Maka sembahlah Aku dan dirikanlah Shalat untuk berdzikir kepada-Ku (mengingat-Ku).’ (QS Thaahaa: 14) Kemudian baca istighfar, Astagfirullaahal azhiim, agar dibebaskan dari dosa-dosa dan membaca ‘Laa haula walaa quwwata illaa billaah,’ satu tanda tak ada kekuatan, merendah bagai bumi. Setelah itu baru mulai kita berdzikir, atau Shalat kepada Allah SWT. Kerjakan itu seumur hidup, dengan rasa, dan dipalukan ke dalam Latifatul Qalbi, membayangkan huruf Allah yang bercahaya terukir di dalam Latifatul Qalbi. Bersuara boleh keras, akan tetapi tidak terlalu keras, biar tidak mengganggu, rasanya yang keras membersihkan penyakit-penyakit hati. ‘Yaa Allah berikan kegagahan kepada sahabat-sahabat tercintaku untuk dapat mengamalkan seumur hidupnya, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin.’
Di samping itu masih ada dzikir Latif. Dzikir yang tidak berbunyi, dzikir yang tersembunyi, malah yang berdekatan pun tidak mengetahuinya. Terdiri dari beberapa latifah-latifah, Latifatul Qalbi, Ruh, Sir, Khafi, Akhfa, Nafs Natiqa dan Kullu Jasad, semoga para sahabat bisa sampai dan mampu tahap demi tahap pada dzikir-dzikir itu, untuk sampai kepada Liqa Allah. Amiin yaa Allah ya Rabbal aalamiin.
Tidaklah dibenarkan seseorang yang belum diijazahkan ilmu dzikir ini mengerjakannya. Saya tidak mau bertanggungjawab, karena akan merubah jiwa seseorang, dan haruslah dibimbing tahap demi tahap.
Kemudian Syaikh (semoga Allah merahmatinya) juga berpesan akan tiga hal, yang pertama adalah kerjakanlah perintah-perintah-Nya, yang kedua tinggalkan atau tariklah garis yang tebal segala sesuatu yang dilarang-Nya dan yang ketiga berserah dengan segala ketentuan-Nya. Jika ketiganya telah dijalankan dengan istiqamah barulah orang itu melangkah ke dunia tasawuf. Kemudian jadikan yang nomor dua menjadi nomor satu, karena terlalu banyak manusia mampu mengerjakan yang nomor satu akan tetapi lemah yang nomor dua, seperti kambing yang menurut dengan tuannya, akan tetapi apabila melihat rumput tetangga dimakannya juga.
Thawaf wada, “perpisahan,” meninggalkan banyak kesan. Dipeluknya Maqam Ibrahim erat-erat. Diciumnya sudut Rukun Yamani. Syaikh beserta para sahabatnya tidak mampu menahan kesedihan. Air matanya mengalir deras bak sungai Tigris, jalan pun tak mampu membelakangi Kabah. Berpisah melalui jembatan perjumpaan, jembatan Banu Syaibah, tempat perjumpaan para sufi dengan Nabiyullah Khidir AS. Syaikh berhenti sejenak di jembatan ini, membaca doa, diaminkan oleh sahabatnya. Air mata semakin deras berjatuhan tatkala Syaikh mengeraskan doanya. Dipasangnya harapan yang tinggi kepada Yang Maha Tinggi, agar sisa kehidupan ini “diperjalankan” menuju kepada “keterpisahan.” Keterpisahan dengan dunia, keterpisahan dengan fitnah-fitnah yang tersembunyi, berpisah dengan selain-Nya.
Ketika Bilal bin Rabah mendekati ajalnya, sang istri meratap, “Duhai betapa sedihnya…,” dan Bilal menyahut, “Oh, betapa girangnya, esok kami menemui para kekasih, Muhammad dan tentaranya.”
Syaikh (semoga Allah merahmatinya) pernah bercerita, “Hatiku sedih, tatkala teringat ‘perpisahan’ dengan Guruku, Guru yang membimbingku sejak kecil.” Beliau berkata bahwa, “Mulai hari ini Gurumu bukan lagi aku, akan tetapi Allah Azza wa Jalla.”
Syaikh melanjutkan ceritanya, “Saat itu Ki Aming bin Darsin sedang sakit. Beliau berpesan, ‘aku ingin bertemu dengan Syaikh Suryadipraja, panggilkan dia kemari.’ Lantas didatangi rumah Syaikhnya dan disampaikannya pesan itu. Dilihatnya Syaikh hanya tersenyum saja, hal ini diulanginya sampai dua kali. Sampai ajal menjemput Ki Aming, Syaikh Suryadipraja tak kunjung datang, setelah sekian lama barulah aku mengerti, mengapa Syaikh bersikap seperti itu.”
Bagiku kematian itu perpisahan
Tiada perjumpaan tanpa keterpisahan
Tanpa Guru, perpisahan adalah perpisahan
Perpisahan adalah tangis dan perjumpaan adalah senyum
Bersama Guru perpisahan adalah pertemuan
Tangis adalah kendaraan…
Sesampainya di Bandara Soekarno Hatta, ada pemandangan yang sangat menyentuh. Antara sahabat yang menanti “perjumpaan” dan sahabat yang menunggu “perpisahan.” Janji kepada keluarga telah dibuat pada saat kakinya menginjakkan bumi pertiwi. Ada yang menelepon istri, anak, supirnya dan banyak lagi. Baru keluar dari pintu pesawat, para sahabat sudah menunggu. Dipeluknya Syaikh erat-erat oleh beberapa sahabat yang menunggu di depan pintu pesawat. Itulah suatu kebahagian, bertemu dengan seseorang yang dirindukannya, bertemu dengan seseorang yang dicintainya, berbeda dengan sahabat yang berhaji, hatinya sudah terpaut dengan keluarganya.
Ada cerita, seorang murid mengunjungi Syaikhnya, murid itu bersalam, “Assalamualaykum’.” Syaikh menjawab, “Waalaykumsalam, siapa itu? “Aku, fulan bin fulan,” kata muridnya. Kemudian Syaikh menjawab, “Pergilah.” Dan sang murid terbingung-bingung. Dalam hatinya berkata, “Salah apa aku?” Lantas diulanginya lagi mengetuk pintu, akan tetapi Syaikh berkata yang sama. Muridnya sedih, tidak diterima bertemu dengan Gurunya. Setelah beberapa lama muridnya datang lagi, Syaikh bertanya, “Siapa di luar?” “Engkau Syaikh,” kata muridnya. Dan Syaikh menjawab, “Masuklah.”
Ustadz Aminin (semoga Allah mengangkat derajatnya) berkata, “Jika engkau mengaji dengan seorang Syaikh, janganlah engkau menggunakan akalmu akan tetapi gunakan hatimu.
Buanglah keranjang keakuan dan keinginan bilamana bertemu dengan Syaikh. Lihat dan dengarkan apa yang ada di belakang cermin, jangan terlena dengan cermin itu. Biarlah beliau yang memulai pembicaraan, bersikaplah bagai mayat yang sedang dimandikan, pasanglah rasa takzim, agar nuurun ala nuurin memancar ke dalam Qalbu.”
Keberuntungan lebih berpihak kepada para sahabat yang tidak berhaji, mereka beribadah dengan membawa-bawa kerinduan yang tinggi. Kabah sebagai arah rabithahnya, dan Syaikh sebagai rabithah penunjuk jalannya. Sementara mereka yang bersama Syaikh tidak merasakan seperti itu, karena Syaikh dan Kabah selalu “bersamanya.” Hati yang rindu, tentulah lebih keras jeritannya kepada Allah Taalaa.
Syaikh berkata, “Aku ada walaupun tiada”
Seribu pikir takkan mampu memahaminya
Sahabat berkata, “Padamkan akal nyalakan hati”
Tak mempunyai adab, nuur pun tak sampai, bagai Abu Jahal
Rindu Syaikh bagai Syayyidina Uwais al Qurni.
Setelah menyelesaikan ibadah Haji, mari kita bertanya ke dalam diri, setelah melangkahkan kaki dari rumah, apakah sudah meninggalkan dosa-dosa? Apakah di malam hari digunakan untuk bermujahadah? Apakah setelah memakai kain ihram, dunia sudah ditinggalkan? Ketika mengelilingi Kabah, apakah hati ikut berkeliling? Di Arafah apakah, bermusyahadah? Ketika qurban, apakah sudah mengurbankan jiwa rendah? Di Muzdalifah, apakah sudah menanggalkan semua hawa nafsu? Di Mina, apakah teraih keimanan? Ketika melempar, apakah sudah terlempar penyakit hati yang membatu? Ketika lari dari Shafa ke Marwah, apakah tergapai kesucian dan kebajikan? Jawabnya tidak! Itu berarti kita semua belum berhaji. Kembalilah! Semoga.
Terlalu gelap hati ini, tak mampu melihat “gajah” yang ada di pelupuk mata, yang dilihat hanyalah kesalahan-kesalahan orang lain, padahal tuan Syaikh Jalaluddin Rumi, memberikan sindiran bagi orang-orang yang menjadi “pengikut yang buta,”
Beo yang tengah memandang cermin melihat dirinya,
Namun bukan Gurunya yang sembunyi di belakang,
Belajar percakapan Manusia, seraya mengira,
Burung sejenisnya tengah berbicara dengannya.
Begitulah murid yang mementingkan diri
Tak melihat apa-apa dalam diri Syaikh, kecuali dirinya sendiri
Akal universal memang fasih berbicara
Di belakang cermin pelajaran Syaikh …
Ruh yang merupakan rahasia manusia …
tak dapat dilihatnya.
Kata-kata ditiru, dihafal itu saja.
Jadi beolah dia yang tak punya sahabat akrab.
Yaa Allah, biarlah aku menjadi beo, akan tetapi beo yang gagu, beo yang buta dan beo yang tuli, agar diri ini tenggelam di dalam jubah Syaikh, tenggelam di dalam jubah Nabi Muhammad SAW, dan tenggelam di dalam keindahan wajah-Mu, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar