Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Syaikh berkata dengan mengutip sebuah hadits, ”Yasfau yaumal Qiyaamati al Anbiyaau tsumma Ulamaa tsumma Syuhadaa,” yang dapat memberikan syafaat pada yaumil qiyamah adalah para Nabi, Ulama dan Syuhada.
Ustadz Marwan (semoga Allah mengangkat derajatnya) adalah seorang sahabat pengajian Sugih. Awal perjumpaannya di tempat kediaman Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya). Ustadz Marwan lebih dahulu mengaji, namun tidak berbeda jauh waktunya. Sebelum dimulainya dzikir bersama, sering beliau diminta untuk menyampaikan tauziah. Masih terus teringat kata-katanya, “Sejak kecil saya belajar agama, berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain, berpindah dari satu negara ke negara yang lain, berpindah dari seorang Guru kepada Guru yang lain, guna mencari seorang pembimbing ruhani, mencari seseorang yang mengerti tentang seluk beluk hati. Alhamdulillah, justru di tempat inilah, saya dipertemukan dengan orang yang saya cari-cari, Almukaram, Syaikh Achmad Syaechudin bin H Aminuddin’.
Sudah sekian lamanya beliau pergi, membantu saudara-saudaranya yang berada di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Memimpin pengajian di sana, kemudian pindah ke Palembang. Sedih hatinya manakala beliau tidak dapat menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad SAW dan Khaul Tuan Syaikh Abdul Qadir Jaelani (semoga Allah mensucikan ruhnya) di Rubat, kediaman Syaikhuna. Barulah satu minggu kemudian beliau berkesempatan berziarah ke rumah Syaikh, berkumpul dengan para sahabat lamanya. Tiada kata-kata yang mampu dilontarkan untuk mengungkap kerinduan. Semuanya terdiam. Alangkah sulitnya melukiskan suasana hati pada saat itu, sedih bercampur syukur kepada Allah Taalaa menyelimuti hati sahabat-sahabat yang berada di sana.
Tatkala pengajian dimulai, beliau memberikan tauziah, “Saya sekarang jauh, kalianlah orang-orang yang beruntung, selalu berdekatan dengan Syaikh. Terkadang saya hanya menangis untuk melepas kerinduan, sebelum Shalat atau dzikir saya membayangkan wajah Syaikh, kemudian saya hadirkan rasa seolah-olah beliau berada di sini. Di sini bersama saya, membimbing saya, menuntun saya berjalan di atas jalan yang lurus. Itulah yang dapat saya lakukan, semoga perbuatan saya ini mendapatkan restu dari Syaikhuna, dan semoga Allah Taalaa mengangkat derajat Syaikh setinggi-tingginya, amiin yaa Allah yaa Rabbal alamiin’.
Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Para masyaikh terdahulu atau para sufi dalam keadaan tertentu, mereka melakukan rabithah kepada Sulthanul Awliya, tuan Syaikh Abdul Qadir Jaelani, (Qodasallahu Sirrahul Aziz). Banyak sekali keutamaan-keutamaan, barakah-barakah dan kebaikan-kebaikan yang akan memancar kepada seseorang yang sedang berrabithah itu, bukankah orang yang Shalat berrabithah arah ke Kabah?, bukankah mereka berrabithah seolah-olah melihat Allah Taalaa atau seolah-olah Allah Taalaa melihatnya? Jadi teramat jelaslah bahwa rabithah sangat diajurkan untuk dikerjakan.”
Saya mendengar Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) bercerita, “Tatkala miraj, Nabi ‘bertemu’ dengan-Nya di Sidratul Muntaha, terjadilah ‘dialog,’ bertaut-tautan antara Allah Taalaa dengan kekasih-Nya. Tiada bahasa di atas dunia ini yang tepat untuk menggambarkan ‘pertemuan’ itu. Hal ini dikisahkan dalam firman-Nya, ‘Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad} sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi), dan Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya,’ seperti dalam surat An Najm ayat 8,9 dan 17.
Nabi SAW, “Salam sejahtera penuh berkah, dan shalawat (rahmat) yang baik (semuanya) hanya milik Allah.”
Allah SWT, “ Semoga salam sejahtera ditetapkan kepada engkau wahai Nabi, dan rahmat serta berkah (dari) Allah SWT.”
Nabi SAW, “Dan semoga pula salam sejahtera dilimpahkan kepada kami dan kepada semua hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah.”
Allah SWT, “Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Lalu dijadikanlah “dialog langit” itu menjadi bacaan tahiyat akhir dalam Shalat. “Salam sejahtera penuh berkah, dan shalawat (rahmat) yang baik (semuanya) hanya milik Allah. Semoga salam sejahtera ditetapkan kepada engkau wahai Nabi, dan rahmat serta berkah (dari) Allah SWT. Dan semoga pula salam sejahtera dilimpahkan kepada kami dan kepada semua hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Allah SWT berfiman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kamu mendapat keberuntungan.”( QS Al Maidah: 35)
Nabi Muhamad SAW bersabda, “Tidak akan sampai amal seseorang, mengambang di antara langit dan bumi, bilamana tidak bershalawat kepadaku.”
Ayat Al Quran dan hadist ini memberi perintah kepada orang-orang yang beriman, untuk mencari jalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah atau mencari tali wasilah. Tali ini adalah tali agama, tali yang tentunya sambung menyambung, tiada terputus dan berawal dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Dan perbanyaklah shalawat kepadanya agar seluruh amal-amal yang diketahui ataupun tidak diketahui akan sampai kepada-Nya, tidak lagi mengambang di alam semesta ini. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi, hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
Sekarang Nabi telah tiada, akan tetapi cahayanya terus menerangi alam jagad raya ini. Dan beliau bersabda, “Al ulamaau warasatul Anbiyaai, Ulama adalah pewaris para Nabi.” Jadi sungguh amat jelaslah untuk mencari ulama dan berpegang teguhlah kepadanya. Serahkan jiwamu kepadanya, pasanglah rasa takzim dan jagalah adab. Wasilah atau tawasul, bisa bermacam-macam caranya, akan tetapi yang utama adalah memasang rasa kecintaan, dan berharap atas keberkahannya. Itulah sebabnya, pada setiap kesempatan sebelum melakukan dzikir-dzikir atau upacara-upacara tertentu, dilantukan shalawat-shalawat dan suratul Al Fatihah kepada Rasulullah SAW, kepada para ahli silsilah, kepada tali agama yang tadi.
Wahai sahabat! makna miraj bukan saja,
Shalat wajib lima waktu, akan tetapi wasilah, ini yang tersirat!
Manusia pertama yang bertawasul adalah Nabiyullah Adam AS, ketika beliau memohon ampun kepada Allah Taalaa atas segala dosa-dosanya. Rasulullah SAW bersabda, “Setelah Adam berbuat dosa ia berkata kepada Tuhannya, ‘Ya Tuhanku, bihaqqi Muhammad aku mohon ampunanMu,’ Allah bertanya, ‘Bagaimana engkau mengenal Muhammad, padahal ia belum Kuciptakan?’ Adam menjawab, ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menciptakan aku dan meniupkan ruh ke dalam jasadku, kuangkat kepalaku, kulihat pada tiang-tiang Arsy termaktub tulisan Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Sejak saat itu aku mengetahui bahwa, di samping nama-Mu selalu terdapat nama makhluk yang paling Engkau cintai.’ Allah menegaskan, ‘Hai Adam, engkau benar, ia memang makhluk yang paling Kucintai, berdoalah kepada-Ku bihaqqi (dengan haknya), engkau pasti Kuampuni, kalau bukan karena Muhammad engkau tidak Kuciptakan’.”
Syaikh pernah mengutip sebuah hadits , “Yasfau yaumal Qiyaamati al Anbiyaau tsumma Ulamaa tsumma Syuhadaa, yang dapat memberikan syafaat di yaumil qiyamah adalah para Nabi, ulama dan syuhada.” Mencari wasilah atau bertawasul tentunya haruslah kepada orang yang mempunyai kriteria sebagai Nabi, Ulama atau Syuhada. Dan kriteria ini hanya dapat ditemui di dalam para ahli silsilah tarekat. Sejarah telah mencatat dan membuktikan kebenarannya, daripada harus mencari-cari lagi, yang kebenarannya masih diragukan.
Di dalam Al Quran surat Al Kahfi, diceritakan tentang tiga orang pemuda yang terperangkap di dalam gua. Kemudian mereka bertawasul dengan amal kebaikannya. Orang pertama bertawasul dengan amal baik kepada kedua orang tuanya. Orang kedua bertawasul dengan amal saleh dan menjauhi dari perbuatan-perbuatan maksiat. Dan orang yang ketiga bertawasul dengan selalu menjaga amanat dan menunaikannya dengan baik. Terbuktilah bahwa, bertawasul dengan cara itu permohonan mereka dikabulkan oleh Allah Taalaa dan mereka dapat keluar dari gua. Bagaimana pula bila bertawasul melalui rajanya amal, Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Marilah kita tengok contoh yang sangat sederhana. Manusia zaman kini, sangat tergantung pada listrik. Dengan listrik dapat menerangi rumah, sarana memasak dan menjadi sarana hiburan. Hampir semua alat elektronik memerlukan tenaga listrik. Dan sebagai ungkapan terima kasihnya, mereka rela membayar. Akan tetapi kepada orang yang membawa risalah berupa “Cahaya” yang terang berderang, yang mengeluarkan orang dari kegelapan menuju cahaya, sangatlah kurang atau tiada rasa terima kasihnya. Apalagi harus “membayar.” Bershalawat saja banyak yang enggan. Atau bahkan menambahkan kata Syayyidina di depan namanya diributkan. Rumah tempat kelahirannya tidak dirawat dan sangat kontras dengan rumah para tamu negara, apartemen dan rumah-rumah penguasa yang berada di sekitar Masjidil Haram. Sementara beliaulah puncak tali wasilah. Syaikhuna pernah berkata, “Bila saja ada kata yang mempunyai makna lebih indah dari Sayyidina, akan saya pakai sebagai ungkapan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW.”
Ibarat seseorang duduk di kursi dan merasakan kenyamanannya, lantas lupa berterima kasih kepada pembuatnya, seperti itulah adanya tabiat manusia. Tidak pernah membayangkan seandainya zaman Jahiliyah berlangsung hingga kini, para wanita tidak ada harganya, bahkan banyak yang malu melahirkan dan membunuhnya. Mereka yang lemah menjadi budak, berhala disembah, tiada hukum, tiada peraturan, tiada tata krama. Persis berdiri di pinggir jurang neraka jahanam. Dan sekarang lihatlah! Peradaban begitu tinggi, bahkan wanita tidak lagi diperjualbelikan, tiada perbudakan, tidak lagi berdiri di pinggir jurang akan tetapi bertengger diistananya masing-masing menikmati isi dunia. Kemudian lupa berterima kasih kepada pembawa “Cahaya,” sehingga penyembahan berhala semakin merajalela. Berhala itu berupa harta, kekuasaan, wanita dan hawa nafsu. Sungguh beruntung orang-orang yang berada dil luar itu, mereka asyik dengan Tuhannya, bertawasul melalui Nabi Muhammad SAW dan penerusnya, yang menjadikan dunia menghamba kepadanya, bukan sebaliknya, dia menghamba kepada dunianya.
Banyak yang mengaku ulama
Rakyat ditipunya dengan kedok agama
Mulutnya berbisa, disuruhnya rakyat mencontoh Nabinya
Akan tetapi dia bergelimangan dengan harta
Masih kurang puas, didudukinya kursi kekuasaan
Agar lebih leluasa menindas bagai setan
Bicaranya masalah ke-Tuhanan
Dia sendiri tidak pernah ingat Tuhan
Di hari berbangkit nanti, baru akan diperlihatkan
Amal-amal yang menjijikan
Merintih-rintih minta pertolongan
Apa daya tali hanya diperuntukkan bagi yang berpegangan
Belumlah terlambat
Karena Dia Maha menerima Taubat
Datang, datanglah kepada api
Api yang akan membakar penyakit hati
Tempatnya di dekat pohon jati
Di depan Masjid Nur Al Barru yang belum lama berdiri
Syaikh berkata, “Puncak awal bertasawuf adalah meninggalkan dunia,
Berkendara ilmu laduni, “laa” tidak dan “duni” dunia, “tidak dunia”
O dunia, isinya hanya ada tangis dan tawa,
Berhitunglah! Lebih banyak yang mana?
Badai kehidupan sangatlah dahsyat, berbekalah “ketahanan”
Ketahanan yang utama adalah keimanan kepada Tuhan
Sang Nabi bersabda, “Perbaharuilah keimananmu!”
Dengan apa yaa Nabi? Dzikir kepada Tuhanmu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar