Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama,(QS Al Fathir: 28)
Bila seseorang ditanya, “Takutkah engkau kepada Allah Taalaa?,” jawabannya pasti, “Takut!” Benarkah seperti itu? Bukankah perintah yang fardhu saja belum mampu dikerjakannya, bukankah larangannya masih dinikmatinya juga dan bukankah bila datang takdir berupa kesusahan-kesusahan hatinya meronta-ronta, “Dosa apa aku ini?”
Syaikh Fudhail bin Iyadh berkata, “Jikalau ada seseorang bertanya kepadamu, ‘Adakah kamu itu takut kepada Allah?,’ maka hendaknya diamlah kamu! Jikalau kamu menjawab tidak, niscaya kamu kufur dan jikalau kamu menjawabnya ya, niscaya kamu dusta.”
Syaikh Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Ciri-ciri Ulama itu hatinya tidak condong terhadap dunia, tidak condong terhadap kedudukan, tidak berharap dari selain-Nya, di dalam hatinya ada rasa takut dan harap.”
Seorang anak kecil tidak tidak takut terhadap ular, karena ia belum mengenal sifat-sifatnya. Dianggapnya binatang itu akan dapat menggembirakan hatinya, padahal sangat membahayakan dan dapat mematikan. Setelah anak itu tumbuh dewasa, barulah ia mengenal sifat-sifatnya. Hal itu diperolehnya dari membaca buku-buku, mendengar orang lain bercerita atau menonton film. Secara perlahan, tahap demi tahap rasa takut itu datang, walaupun ia sama sekali belum pernah digigit ular. Berbeda dengan orang desa atau petani yang pekerjaannya di sawah. Ia mengenal ular itu karena memang pernah merasakan gigitan ular. Keduanya sama, telah mengenal sifat-sifat sang ular tadi. Akan tetapi kelas pengenalannya jelas berbeda, yang satu mengenal dengan menggunakan kekuatan akal intelektualnya, dan yang satu lagi mengenal dengan cara “menyaksikan dan merasakan” gigitannya.
Di kemudian hari orang itu memperoleh ilmu yang baru, yang membuatnya lebih dalam lagi mengenal sifat ular itu. Di suatu desa sedang terjangkit wabah, panen padinya terganggu, tanaman-tanamannya banyak yang mati dimakan oleh gerombolan tikus. Banyak petani yang mengeluh hingga akhirnya mereka merenung mencari sebab terjadinya bencana wabah ini. Salah seorang petani yang alim berkata, “Mungkin ini salah kita semua, yang merusak tatanan kehidupan di sawah, tiada keseimbangan lagi di sana, terlalu sering kita membunuhi ular-ular, padahal ular-ular itu membantu kita dengan memakan tikus-tikus perusak. Akibatnya tikus-tikus dapat berkembang biak dengan cepat dan rusaklah tanaman-tanaman kita dimakan oleh gerombolan tikus-tikus lapar.” Itu berarti, selain mempunyai sifat yang mematikan, sang ular juga mempunyai sifat yang membantu. Di samping ada rasa “takut” terhadap ular, ada pula rasa “harap.” Dan tentu saja akan berbeda “rasa” harap orang yang hanya mendengar cerita tentang wabah tikus itu dengan rasa harap yang dialami oleh para petani.
Akal intelektual berkata, “takut” berarti lari menghindari-Nya,
Akal spiritual menyahut, “takut” berarti lari mendatangi-Nya,
Syaikh Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa, “Penyakit hati ada 66 (enam puluh enam) banyaknya, itulah dinding penghalang antara manusia dengan Tuhannya. Haruslah dibersihkan dulu yang 66 (enam puluh enam) itu, barulah akan bertemu dengan-Nya. Sedangkan membersihkan satu saja sangatlah susah, haruslah dengan riyadhah dan mujahadah yang keras, haruslah dibersihkan dengan dzikirullah, dengan dzikir dzahar, dzikir yang dipalukan ke dalam hati sunubari secara terus menerus, dan berserah atas kehendak Allah Taalaa.
Para sufi terdahulu, memberikan angka-angka pada huruf-huruf hijaiyah. Angka-angka ini dapat menggantikan ayat-ayat Al Quran tanpa merubah arti dan maknanya. Seperti Bismillaahir Rahmaannir Rahiim dapat dinyatakan dengan angka 786, sedangkan Allah yang terdiri dari Alif Lam Lam Ha sama dengan 1+30+30+5 = 66. Dengan menggunakan matematika yang sederhana, akan didapat 66–66=0, atau penyakit hati itu, yang banyaknya 66, dikurangi dengan asma Allah yang 66 itu, akan menjadi habis. Jadi untuk menghilangkan penyakit-penyakit hati, haruslah terus menerus menyebut asma Allah, dengan tatacara yang khusus, yang telah dikerjakan oleh para masyaikh terdahulu, sehingga akan tercapai angka “nol,” yang berarti “ketiadaan.” Barulah akan terbuka dinding penghalang tadi dan barulah orang itu akan mengenal dirinya dan akan mengenal Penciptanya.”
Rasulullah SAW bersabda, “Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu, barang siapa mengenal dirinya, dia akan mengenal Tuhannya.”
Syaikh Achmad Syaechudin (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Bulgaria, adalah suatu negara yang terkenal dengan keindahan bunga mawarnya, lekukkannya sangat artistik, besar bentuk dan warnanya indah, keharumannya menghanyutkan jiwa, para sufi terdahulu menggunakan bunga ini untuk pengobatan. Dibawanya bunga mawar itu berkhalwat, dibuatlah huruf Allah helai demi helai, lalu dibiarkan sampai mengering, sambil mewiridkan Bismillaahir Rahmaannir Rahiim sebanyak 786, berulang-ulang sampai bilangan tertentu dan dengan cara-cara tertentu, setelah sekian lama barulah diberikan kepada murid-murid yang membutuhkannya, untuk pengobatan yang sedang dalam keadaan sakit ataupun untuk murid-murid yang akan berangkat berperang.”
Allah SWT berfirman, “Katakanlah, serulah Allah atau serulah Ar Rahman, dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik) …”(QS Al Israa: 110). Walaupun sifat-sifat dan nama Allah Taalaa itu tidak terbatas, akan tetapi jumhur ulama sepakat, menggunakan Ismul Azam sebanyak 99 (sembilan puluh sembilan), dan mengelompokkannya menjadi dua bagian yaitu, sifat Jalaliyah (Keperkasaan) dan sifat Jamaliyah (Keindahan). Dan dari pengelompokkan ini diperoleh, sifat Jamaliyah-Nya lebih banyak dibanding sifat Jalaliyah-Nya. Allah berfirman di dalam hadist Qudsi, “Rahmat-Ku mendahului siksa-Ku.”
Syaikh (semoga Allah merahmatinya) berkata, “Barang siapa menyebut Ar Rahman 100 (seratus) kali banyaknya dalam satu hari, maka orang itu tidak akan pernah susah kehidupan dunianya. Itulah pertanda Allah akan menjawab bilamana seseorang berdzikir atau menyebut nama-Nya, dengan tindakan-tindakan-Nya berupa kasih sayang-Nya dalam bentuk apa saja.”
Allah SWT berfirman, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu ...( QS Al Baqarah: 152)
Takut adalah suatu ”keadaan,” hasil dari riyadhah dan mujahadah yang keras. Allah menghinggapkan Nuur ke dalam hati para ”pekerja.” Barulah sedikit demi sedikit sifat Jalaliyah akan diperkenalkan-Nya. Setelah itu barulah rasa takut itu hinggap di dalam hati tahap demi tahap. Bersamaan dengan itu secara perlahan-perlahan sifat Jamaliyah akan terjelaskan. Barulah akan timbul rasa harap tahap demi tahap juga.
Takut, karena menatap sifat Jalaliyah-Nya
Harap, karena menatap sifat Jamaliyah-Nya
Inilah perintah agar orang-orang yang beriman takut kepada Allah SWT, ”Takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran: 75). Kemudian Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para Uama.” (QS Al Fathir: 28). Allah memberikan kepastian bahwa hanya para ulama saja yang takut kepada-Nya. Jadi jelaslah perbedaan orang yang beriman dengan Ulama, dan Syaikh (semoga Allah merahmatinya) berkata, ”Berbeda-beda rasa takut itu, rasa takut orang yang dikepung akan dibunuh, berbeda dengan rasa takut orang yang dipanggil menghadap kepala bagiannya, bertingkat-tingkat rasa takut itu.”
Jangan takut kepada apapun selain-Nya
Karena takut datang dari “Sang Empunya Takut”
Janganlah takut kepada macam-macam takut
Akan tetapi justru takutlah bilamana rasa takut itu tidak berdatang
Ketahuilah! Dia hanya mau bertemu dengan orang-orang yang “takut”
Dibalik “takut” ada “harap”
Berharaplah kepada-Nya agar harap berdatang,
Karena tanpa harap Dia pun tak mau berjumpa.
Ada yang beramal baik,
berharap diterima amal-Nya
Ada yang beramal buruk, lalu bertobat,
berharap memperoleh pengampunan-Nya
Ada yang terus melakukan dosa,
berharap rahmat-Nya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar